
Lempar. Tangkap. Hap. Berulang terus. Dari atas pikap satu orang melemparkan galon air minum. Di bawah, satu orang lainnya menangkap. Huh, mentang-mentang galon kosong, saya membatin. Saya tak berani mengucapkan karena saya tak kenal mereka.
Tentu saya tak berani mengusulkan agar barangnya dilemparkan untuk ditangkap kepada awak truk elpiji yang mengangkut tabung 12 kg. Berat kosong tabungnya saja 15 kg. Jangan tanya berat tabung dan isi kemasan 50 kg. Kalau berat total Bright Gas 5,5 kg dan tabung sih 12,5 kg.
Pikiran itu muncul begitu saja tadi saat saya melipir berjalan kaki di Jalan Raya Pondokgede, Jaktim, lalu memotret. Saya juga berpikir kenapa dalam lomba tujuh belasan tak ada lempar galon kosong.

Apakah foto ini sekali jadi? Tidak. Ini jepretan ketiga. Foto pertama dan kedua hanya berhasil membekukan galon sudah ditangkap. Apakah foto yang terpasang ini memuaskan? Tidak. Tangan si pelempar sudah turun. Mestinya pas tangan dia masih di atas dan galon sudah terlepas.
Paling mudah tentu menyalahkan ponsel yang kurang responsif, Samsung Galaxy A05. Dalam foto ini saya menjepret begitu tangan si pelempar galon sudah terangkat. Ternyata rana telat bekerja. Tetapi saya memakai ponsel Rp10 juta ke atas pun hasilnya akan sama. Masalahnya di saya, bukan pada kamera. Kenapa tak merekam dengan video? Sering kali saya lebih suka foto.

2 Comments
Pada waktu rumah saya direnovasi, tukang menurunkan genteng dengan cara dilempar, lantas ada tukang lain yang menangkap di bawah. Cepat tapi buat saya mengerikan.
Betul, cara mereka seperti itu 😂