
Mungkin kacamata saya harus berganti. Siang terik itu, dari kejauhan saya mengira ada uba rampé semacam sesajen, bahkan berharap bukan sesajen melainkan aneka makanan di atas takir, disertai teh poci, dalam gazebo Jawa di balik rumpun tanaman pisang, pada halaman belakang sebuah bangunan. Misalnya benar itu makanan dan dijual saya akan membeli.
Oh, mata! Oh, rasa ingin tahu! Maka saya pun mendekat. Selewat rumpun pisang jelaslah itu bukan penganan, melainkan peralatan tukang. Walah. Lalu saya foto, dan saya kembali ke ruang dalam yang mejanya sudah menyediakan hidangan untuk saya. Saya kadang memang tak betah diam menunggu sesuatu sehingga memilih mengayunkan langkah melihat sekitar.

Ingat gazebo ingat gubuk di sawah. Saya waktu bocah, belum sekolah, kadang sendirian ngeluyur ke sawah dan tegalan. Suatu kali karena kepanasan di tengah sawah maka saya menghampiri sebuah dangau dengan lurus belok lurus belok menyusuri pematang.
Setiba di dangau ternyata ada orangnya, seorang petani, sedang bersiap makan siang. Saya menyapa, minta izin berteduh. Dia mempersilakan dengan ramah, bahkan menawari makanan. Saya lupa makan apa, yang pasti tanpa nasi. Saya juga lupa saat itu mencuci tangan dengan cara apa.
Setelah kembali ke rumah, makan siang sudah disiapkan Ibu. Saya bilang sudah agak kenyang karena diberi makan orang di sawah. Ibu tidak marah tetapi menegur saya, “Husss itu saru, minta makan orang di sawah. Kamu mengurangi makanan dia.” Saya bertahan tidak minta tetapi diberi.

One Comment
Kisah menarik tentang rasa ingin tahu! Terkadang, apa yang kita lihat tidak selalu seperti yang kita harapkan.