
Istilah higienitas, bukan higiene, mengemuka sejak kasus keracunan MBG merebak. Warung soto langganan saya pun memakai kata itu. Saya tak melakukan pelacakan jauh secara mendalam, namun saya berprasangka penular utama adalah media berita. Masalahnya siapakah yang lebih dominan, media teks ataukah media audio visual, termasuk arsip siaran TV di YouTube dan pelantar lain? Saya tak tahu.

Prasangka berikutnya adalah istilah higienitas muncul dari narasumber. Jika menyangkut media tulis, kemunculan dalam berita melalui editor. Mestinya sang editor mengoreksinya menjadi higiene, terutama dalam kutipan tak langsung. Sedangkan dalam video berita ucapan narasumber tentu dibiarkan apa adanya — lha mosok diedit?

Kemudian prasangka lanjutan saya adalah masyarakat terpengaruh, termasuk di dalamnya adalah warganet melalui media sosial. Akhirnya terjadilah perputaran kesalahkaprahan disertai pembiakan. Ya, seperti halnya kata prosesi.

Maka kini persoalannya adalah masih perlukah media berita berusaha berbahasa dengan baik? Oh ya, siaran pers Badan Gizi Nasional (18/10/2025) pun menyebut kata higienitas. Setiap Oktober adalah Bulan Bahasa. Anggap cincai sajalah. Seperti presisi, kata benda, yang di sejumlah media menjadi kepresisian. Mungkin karena KBBI tak punya kata “presis” (precise) , hanya ada persis (Belanda: precies). Ada pula keakurasian di media berita dan YouTube, padahal akurasi berarti keakuratan.

