
Sambil membawa masuk jeruk yang kami beli dari Mbakyu Sayur, sementara istri saya masih menawar dagangan lain, saya membatin, “Misalnya jeruk ini getir atau malah sepa, airnya dikit, tetep aku makan. Tetep ada vitaminnya. Nggak usah dibalikin.”
Di seberang rumah, seorang bapak sepuh, yang ngider naik motor untuk mencari tukang sayur, sedang uring-uringan di samping gerobak.
Saya mendengar dia ingin mengembalikan buah yang setelah dia simpan dalam kulkas lalu dia buka ternyata tak sesuai harapan. Mbakyu Sayur, yang beberapa kali saya blogkan, menolak karena buah sudah dibelah. Lalu si bapak saya dengar bilang, “Ya wis, arep tak buwang!” Ya sudah, akan saya buang!
Bapak itu datang ketika saya sudah masuk teras, tetapi saya sempat menyapanya. Saya pikir dia akan berbelanja. Setelah gerobak sayur berlalu, istri saya menjelaskan bahwa bapak itu akan mengembalikan pepaya yang dia beli kemarin. Ternyata daging buahnya tak berwarna kemerahan.
Kami berdua sepakat tak akan melakukan hal serupa, dan memang belum pernah. Kalau kecewa ya tinggal komplain. Selama ini begitu. Lagi pula buah yang kami bukan berkotak-kotak atau satu pikap, karena kalau kami membeli banyak pasti mencicipi sampel.
Kami tak akan mengembalikan buah yang sudah kami belah maupun kupas lalu minta uang kembali. Kami juga sependapat, saat Mbakyu Sayur mengulak di pasar dia tak tahu apa warna bagian dalam pepaya.
Kami pun sama-sama menyayangkan peristiwa tadi. Bapak itu adalah orang makmur — rumahnya di mana-mana, sehingga kalau ada orang rasa-rasan ingin menjual rumah maka orang lain akan berkomentar tawarkan ke Pak Itu saja — masa sih sampai segitunya.
Dia bukan orang yang uangnya untuk membeli sebuah (atau sebutir?) pepaya adalah uang terakhir dalam genggamannya padahal ujung bulan masih sepekan.
Lalu rasa jeruk itu bagaimana? Manis, banyak airnya. Saya suka.
