Maklumat di peturasan

Halah, pengumuman sekadarnya pun cukup, yang penting orang paham. Tapi lebih dari itu laik puji.

▒ Lama baca < 1 menit

Pengumuman urinoir rusak di toilet Gandaria City, Jaksel — Blogombal.com

Ada sekian versi pemberitahuan manakala urinoir maupun kloset sedang bermasalah. Yang umum untuk fasilitas publik adalah tulisan “rusak”, jika perlu cukup berupa sisi polos kertas bekas karton kemasan, dengan tulisan spidol tipis bahkan bolpoin. Ya, seperti pengumuman yang menutupi layar ATM ngadat. Adapun foto yang saya contohkan di sebuah mal ini lebih formal dan rapi. Bahasanya tertata.

Dari sisi desain grafis, maklumat ini bagus. Pilihan fon legibel, mudah kita baca. Dari sisi tata huruf menerapkan prinsip headline atau tajuk pesan: “perbaikan sedang dilakukan”, kemudian disusul teks lebih kecil. Memang sih berupa kalimat pasif, namun akan lebih jelas siapa yang bertanggung jawab jika menggunakan kalimat aktif karena ada subjeknya: “kami sedang memperbaiki”.

Walakin demkian, bagi saya informasi ini tetap bagus dari sisi desain dan kebahasaan. Dikerjakan dengan takzim, sampai kertasnya pun dilaminasi agar tak luntur tepercik air, dalam kertas ada kalimat “mohon maaf atas ketidaknyamanan Anda”.

Lho, bukannya itu kalimat lumrah? Baiklah, lebih lumrah lagi adalah “mohon maaf atas ketidaknyamanannya”. Serupa “terima kasih atas kerja samanya” dan “terima kasih atas perhatiannya”. Ehm, “nya” siapa yang penulis maksudkan?

Selebihnya biarlah guru bahasa Indonesia yang membahas mengapa banyak surat dan pidato yang gemar memakai “nya” untuk kata ganti orang kedua. Ada yang berpendapat ini soal kultur, menyebut langsung lawan bicara itu kurang sopan. Serupa penggunaan “kami” untuk menggantikan “saya”, karena “saya” memberi kesan menonjolkan diri, padahal dia tak berbicara atas nama lebih dari seorang, bukan sedang mewakili suatu kolektivitas.

Saat saya di SMP, guru menyalahkan saya karena dalam tugas membuat surat saya menulis “terima kasih atas perhatian Ibu” dan menutup surat dengan “hormat saya”.

Yah, sejak SD hingga SMA nilai bahasa Indonesia saya tak cemerlang. Mungkin karena ketika diajarkan saya sering melamun, menguap, tertidur, asyik menggambar guru, tetapi kalau guru bertanya saya dapat menjawab. Saya juga dianggap riwil, senang mencari masalah, karena kadang bertanya hal, juga di luar soal kebahasaan, yang menurut mereka merepotkan.

2 Comments

Totok Kamis 16 Oktober 2025 ~ 15.49 Reply

‘Walakin’ ini apa toh??
(alinea ke-3)

Pemilik Blog Kamis 16 Oktober 2025 ~ 20.14 Reply

Walaupun, meskipun, kendati.
Apa kabar, Mas? 🙏💐

Tinggalkan Balasan