
Hampir selalu ada kios dukacita di setiap pasar tradisional, terutama di area perkampungan. Saya sebut kios dukacita karena mereka menjual perlengkapan orang meninggal, sejak bunga, kendi, gayung untuk memandikan jenazah, anglo kecil, air wangi botolan, dan kemenyan.
Kios pernak-pernik atau uba rampé orang meninggal ini saya foto di area Pasar Kecapi, Jatiwarna, Kobek, Jabar. Di Pasar Pondokgede setahu saya ada. Demikianlah pula di Pasar Kramatjati, dekat Cililitan, Jaktim. Mereka buka siang hari sampai dini hari, bahkan ada yang buka 24 jam.
Di pasar pada kawasan Anda bermukim mungkin juga ada kios dukacita. Kios macam itu tak terlepas dari guyub warga perkampungan maupun kompleks perumahan. Maka saat seorang warga meninggal malam hari, dalam waktu singkat tak hanya ada tenda dan kursi tetapi juga tersedia perlengkapan jenazah. Bahkan kertas minyak kuning bendera pun sudah ada. Tentang ragam warna bendera duka silakan lihat arsip.

Saya tak tahu apakah kelak setelah banyak keluarga memanfaatkan rumah duka sewaan untuk menyemayamkan almarhum atau almarhumah, konsumen kios dukacita akan berkurang. Oh, tidak. Rasanya tidak. Selain lebih murah, menyemayamkan jenazah di rumah dan memberangkatkan ke perkuburan dari tempat yang sama tetap menjadi prioritas. Apa pun kondisi rumah dan jalan di depan rumah. Tetangga menenggang.
