
Pekan ini ada saja berita menyedihkan seputar lingkungan. Termasuk foto Walhi Sumbar yang dimuat Kompas tentang lokasi penambangan emas liar di dekat Kantor Bupati Sijunjung.


Untunglah masih ada informasi menyenangkan, manusia bisa belajar dari orangutan¹ untuk pola makan hidup sehat.
Beberapa poin saya nukilkan dari artikel redaksi di halaman Humaniora, yang juga berisi saintek, salah satu keunggulan Kompas itu:
- Orangutan merupakan salah satu kerabat terdekat manusia yang masih hidup. Dengan hubungan evolusi ini, orangutan dan manusia memiliki proses fisiologis dan metabolisme, kebutuhan nutrisi, dan adaptasi perilaku yang mirip
- Namun pola makan modern yang kaya akan makanan olahan dapat mengganggu keseimbangan ini. Hal itu menyebabkan gangguan metabolisme seperti diabetes
- Orangutan mengurangi aktivitas fisik selama musim produksi buah yang minim. Strategi ini dilakukan untuk menghemat energi
- Tetapi manusia cenderung kurang menyesuaikan pengeluaran energi dengan asupan kalori. Inilah yang memicu penambahan berat badan dan penyakit terkait gangguan metabolisme
- Orangutan lebih suka makan buah karena kaya karbohidrat
- Namun ketika buah langka, mereka beralih mengonsumsi daun, kulit kayu, dan makanan lain yang dapat menyediakan lebih banyak protein, tetapi lebih sedikit karbohidrat
- Saat ketersediaan buah melimpah, orangutan tetap mengonsumsi protein. Namun, mereka memperoleh sebagian besar energinya dari karbohidrat dan lemak dalam buah
- Orangutan menghindari obesitas sebagai bagian dari respons terhadap fluktuasi signifikan terkait ketersediaan buah di habitat alami mereka. Orangutan mengalami periode kelimpahan sekaligus kekurangan
- Periode kekurangan makanan yang menyebabkan rendahnya asupan kalori serupa dengan puasa intermiten pada manusia. Hal ini dapat membantu menjaga kesehatan mereka dengan mengurangi stres oksidatif

Ya, manusia memang bukan orangutan. Dulu simbah putri saya perokok berat sampai tembok dan kaca jendela maupun pintu berwarna cokelat, tetapi dalam soal makanan Simbah itu samadya, secukupnya. Dia juga rajin bermeditasi dan menjalani laku.
Simbah juga aktif secara fisik, meskipun sudah tidak kuat berjalan karena cedera kaki dia suka bertukang, dari bikin ini itu yang sederhana dengan kayu dan bambu sampai menambal panci bocor maupun bikin betul kuping dan tutup panci rusak. Mengasah sabit dan bendho juga biasa. Simbah meninggal dalam usia hampir seratus karena uzur, tanpa penyakit seperti generasi anak dan cucunya.
Tatkala Simbah sudah merasa harinya makin dekat, ibu pun bersiap. Ketika dia meninggal (1995), hanya ibu dan bude saya yang memandikannya, setelah itu baru lapor RT. Malam itu Pak RT heran, Ibu menjelaskan bahwa itu kesempatan terakhir merawat ibunya karena Ibu sering memandikan jenazah orang lain.
Perihal pola makan manusia, saya berpengandaian hal itu karena akal. Setelah manusia mengenal cara menghasilkan api dan memanfaatkannya untuk memasak, maka ragam asupan pun makin kaya, tak cukup sekadar memanfaatkan sumber mentah di sekitar. Jari melengkung manusia purba dengan ujung melebar adalah bagian dari kebiasaan memanjat pohon, antara lain untuk memetik makanan. Eh, tetapi bukannya kerang dan ikan segar tertentu sebagai sumber protein bisa dimakan mentah, ya? Manusia modern juga doyan oyster dan daging salmon mentah.
Makanan kita makin kaya karena ekonomi pasar. Tak perlu menanam dan tak perlu beternak apalagi berburu, kita bisa makan apa saja, termasuk nasi, ikan asin, telur asin, dan dendeng — dan tentu tahu, tempe, dan aneka buah.
Sejauh saya lihat dulu, petani yang selalu ke sawah, berangkat pulang jalan kaki, jarang yang tampak berpostur obes abdominal.
¹) Ternyata KBBI menetapkan orang utan, bukan orangutan, sebagai kata yang baku. Padahal dunia ilmiah menyebut orangutan. KBBI juga tak mengakui orangtua untuk ayah dan ibu.

2 Comments
Mari makan buah-buahan biar sehat kayak orang utan 😀
Mari. Manusia pada awalnya bukan karnivor