PHK di Gudang Garam dan pengangguran

GG tak beli tembakau sejak 2024. Tingkat pengangguran terbuka menurun, tapi penganggur bertambah.

▒ Lama baca < 1 menit

Gudang Garam setop beli tembakau sejak 2024 - Kompas — Blogombal.com

Sampai tadi malam saya penasaran dengan perkembangan berita ihwal PHK massal di Gudang Garam, Kediri, Jatim. Sebagai perusahaan publik, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tak membuat klarifikasi. Adapun Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan belum menerima laporan resmi dari GGRM. Padahal di media sosial dan media berita terlembagakan isu ini terus menggelinding.

Di luar isu kesehatan dalam produk tembakau, dalam situasi perekonomian kecut pahit sekarang ini mestinya semua pihak yang relevan untuk berbicara memberikan informasi kepada masyarakat. Ini bukan soal rokok melainkan lapangan kerja. GGRM mempekerjakan 30.000 orang.

Prabowo dalam pidato Agustusan bilang, tingkat penganggaran terbuka menurun. Silakan tengok berita resmi BPS Mei 2025 yang angka-angkanya tak saya kutip. Hanya saja BPS menambahkan catatan di bawah judul bagan: “Namun jumlah penganggur meningkat”.

Pengangguran terbuka menurun, tapi penganggur bertambah - BPS — Blogombal.com

Masalahnya Indonesia tak mengenal tunjangan penggangguran. Ekonom UI Chatib “Dede” Basri setidaknya dua kali mengingatkan bahwa status menganggur adalah sesuatu yang mewah:

Hanya orang dengan tabungan atau keluarga yang menopang yang sanggup menganggur. Yang miskin? Mereka tak punya pilihan. Mereka harus bekerja — apa saja — demi sekadar untuk bertahan hidup. Dan kita tahu: itu berarti sektor informal.

Sila baca tulisan Dede di Kompas (Senin, 8/9/2025): “Affan Kurniawan dan ‘Chilean Paradox‘”.

Sebelumnya Dede, yang piawai menulis masalah ekonomi dengan cantik, karena dia menyukai sastra dan teater, mengingatkan hal serupa dalam “Sjahrir, Deregulasi dan Keadilan Ekonomi” (Sabtu, 20/8/2025):

Mengutip Aris Ananta, ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, pengangguran itu barang mewah. Hanya ”orang kaya” yang bisa menganggur karena mereka punya tabungan atau keluarga yang menopang.

Yang miskin? Harus bekerja apa saja untuk sekadar bertahan hidup. Mereka masuk ke sektor informal. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi 2019-2024 lebih banyak menciptakan pekerja informal.

Menciptakan lapangan kerja berbayar. Job creation. Itu tugas pemerintah di mana pun dan kapan pun. Sambil mendorong kewirausahaan dengan peta jalan yang jelas. Tetapi Rahayu Saraswati, keponakan Bowo di DPR, bilang, berharap pemerintah menciptakan lapangan kerja itu seperti pola pikir zaman kolonial.

4 Comments

mpokb Selasa 9 September 2025 ~ 17.20 Reply

Pengangguran terbuka turun, tapi jumlah penganggur meningkat. Ini semacam ikut rusuh dan perusuh kemarin itu ya…

Pemilik Blog Selasa 9 September 2025 ~ 18.37 Reply

Mmmm.. soal kriteria sih Mbak Mpok.

Menurut BPS, kriteria pengangguran terbuka adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dalam seminggu terakhir tidak bekerja sama sekali, atau sedang mencari pekerjaan, atau mempersiapkan usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa), atau sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja.

Kriteria Pengangguran (menurut BPS)

Pengangguran menurut BPS mencakup kelompok orang yang:

Tidak Bekerja Sama Sekali: Seseorang yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali.

Mencari Pekerjaan: Seseorang yang aktif mencari pekerjaan baru.

Mempersiapkan Usaha: Seseorang yang sedang dalam proses mempersiapkan suatu usaha baru.

Putus Asa (Merasa Tidak Mungkin Mendapat Pekerjaan): Seseorang yang telah berhenti bekerja

Saya termasuk 🫢🫣

Rudy Selasa 9 September 2025 ~ 13.15 Reply

Emosi saya nyaris tersulut dengan pernyataan Rahayu Saraswati. Lalu emosi benar-benar tersulut menyimak pernyataan menkeu yang baru itu.

Pemilik Blog Selasa 9 September 2025 ~ 16.01 Reply

Yah, begitulah orang yang tak punya kepekaan dan empati.
Jika mereka berposisi di atas, fungsi mereka adalah melatih kesabaran kita dalam mengelola kesehatan jiwa kita.

Tinggalkan Balasan