
Resmi sudah, Nadiem Makarim jadi tersangka korupsi pengadaan laptop Chromebook semasa menjadi menteri pendidikan, kebudayaan dan ristek. Sangkaan korupsi itu tak terbatas pada memperkaya diri sendiri, melainkan juga memperkaya orang lain dan merugikan negara.
Apakah Nadiem memperkaya diri? Biarlah proses peradilan yang membuktikannya. Namun tanpa dukungan informasi, sejauh ini sejak kasus ini menjadi berita, saya berpengandaian dia tak memperkaya diri.
Saya tak kenal Nadiem, demikian pula apalagi sebaliknya, namun melihat latar belakangnya, terutama keluarga dan pendidikan, rasanya kok tidak mungkin dia menilap duit dari proyek Rp1,98 triliun. Jika nanti terbukti demikian? Waduh, menyedihkan. Pak Nono Makarim pasti menangis.
Dari sisi logika hukum, penetapan dia menjadi tersangka itu masuk akal. Anak buahnya sudah menjadi tersangka, masa atasan yang menyetujui bahkan mengusulkan Chromebook tetap bebas. Dia harus bertanggung jawab.
Ada yang aneh sih bagi saya. Jika benar dia memilih Chromebook yang mensyaratkan ketersediaan akses internet, masa sih orang sepintar dia, prodigy yang sebelum usia 40 menjadi menteri, dengan reputasi membuat bisnis berbasis teknologi digital, tak memikirkan ketimpangan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia?
¬ Foto: Kejaksaan Agung

6 Comments
Teelepas dari Nadiem bener-bener korup atau tidak, kabarnya harga laptopnya saat itu jauh lebih tinggi daripada harga pasaran. Mosok dia sama sekali
tidak tahu ada terjadi demikian?
Itu keanehan lagi. Banyak yang aneh ing atasé orang bisnis mosok ndak tahu
Jadi kalau misal tidak korupsi, tapi membiarkan terjadinya korupsi. Ngertos tapi ditekke mawon.
Antara lain begitu. Kasus Lembong itu kan dia tidak memperlancar diri, soal korupsi anak buah embuh, tapi dia menjalankan perintah presiden lalu negara katanya dirugikan. Kata hakim dia memperkaya kaum kapitalis.
Ironis, karena hero green, yg sekarang dijadikan warna simbol perlawanan juga, berasal dari warna Gojek. Memang terasa aneh, Bang Paman. Ada yang bilang kasus Nadiem mirip dengan kasus Karen Agustiawan
Maka kita tunggu sidang pengadilan. Memang sih sidang bisa aneh, seperti hakim menyebut Tom Lembong mendukung kapitalis. Dalam bahasa guyon, kalo hakim anggap mendukung kapitalis itu kejahatan, berarti dia komunis. Rocky Gerung juga bilang gitu.