—
Kata Bapak ini, “ikut rusuh” tidak sama dengan “perusuh”.
Okeh 😂 pic.twitter.com/lfB0C1Ip3n
— narkosun (@narkosun) September 2, 2025
Kemarin malam saya sampai mengecek ke kanal iNews di YouTube. Soal “ikut rusuh” dan “perusuh” memang ada. Hari ini topik yang mengundang tawa itu masih hidup dan menghibur.
Bagaimana Ferry Irwandi bertutur di televisi, silakan lihat di YouTube. Dia bertutur tertata dan argumentatif.
Kalau masalah ini menjadi perkara di pengadilan, sidang perlu menghadirkan ahli bahasa sebagai saksi ahli.
Gelombang demonstrasi dan kerusuhan di sejumlah kota pekan lalu memunculkan aneka wacana dari pemerintah, misalnya keterlibatan pihak asing.
Halah misalnya ada pihak asing, mafia, atau embuh apalah, kalau kebijakan pemerintah itu genah, DPR waras, dan polisi bijak, tak akan ada demonstrasi dan amuk massa.
Dalang asingnya udah ketemu. pic.twitter.com/IQzct1ieHQ
— Fedi Nuril (@realfedinuril) September 3, 2025

2 Comments
Saya suka geli kalau menonton reporter televisi melaporkan langsung dari lokasi, bahasa tuturnya hancur lebur. Tidak layak dijadikan acuan.
Menjadi reporter TV untuk laporan langsung itu lebih sulit daripada reporter media tulis. Selain harus enak dilihat, dia juga harus bisa berbicara secara impromptu dengan kalimat tertata dan pilihan kata yang tepat.
Tak mungkin reporter hanya diam sementara layar TV terus menayangkan tangkapan kamera. Berat, memang.
Dari reporter TV, angkur TV, dan pemandu acara pula kesalahkaprahan bahasa menyebar. Misalnya penyebutan “prosesi” padahal tak ada arak-arakan.