
Salah satu dari 24 foto Kompas.id (Kamis, 28/8/2025), dalam serangkaian gambar bertajuk “Aksi Massa Gabungan Mahasiswa dan Masyarakat Dibubarkan Polisi“, ini menarik. Pewarta foto Rony Ariyanto Nugroho jeli menangkap sisi humor di lapangan.
Kapsi untuk foto seorang pria duduk dengan latar tembok bertuliskan “awas intel” itu bertutur:
Seorang polisi berpakaian sipil merekam dan mengamati massa gabungan mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat yang menggelar aksi di depan Gedung DPR, Jakarta, Kamis (28/8/2025).
Dalam setiap demonstrasi isu kehadiran reserse, intel, atau apalah pokoknya orang yang menyamar, adalah masalah peka. Kadang mereka mudah dikenali karena, misalnya, bisa berada di sisi aparat keamanan tanpa dihalau maupun ditanyai.
Dari sisi demonstran yang anggota kelompoknya saling mengenal wajah bahkan nama, si petugas yang menyaru tak mereka kenali sebagai bagian dari mereka. Ketika berada di tengah kelompok, petugas penyamar ini leluasa merekam wajah para demonstran dengan ponselnya.
Akan tetapi ketika di X kemarin saya lihat video demonstran di markas Brimob Kwitang, Jakpus, memukuli seorang pria yang mereka duga intel, saya tak tega. Jangan-jangan dia korban asal tuding dari intel beneran, seperti orang yang difitnah oleh copet asli yang ingin selamat.
Dari sisi bahasa, soal foto ini juga lucu. Pertama, setahu saya istilah intel, dari kata intelijen (intelligence), jarang dipakai dalam bahasa Inggris untuk menyebut agen rahasia. Intel lebih bermakna sebagai informasi.
Adapun dari sisi kapsi, penyebutan “polisi berpakaian sipil” juga lucu karena Polri itu korps sipil, bukan militer — hanya pada masa Orde Baru polisi di bawah Panglima ABRI/Polri. Bahasa Inggris lebih suka menyebut “police in plain clothes”. Bahasa Indonesia lama sebenarnya mengenal istilah yang pas: polisi berpakaian preman. Namun kini preman bermakna lain. Polisi preman tak berarti polisi yang menyamar. Bisa jadi malah preman berbulu polisi.
Lalu? Intel ada di mana-mana, juga di lingkungan partikelir. Jika Anda keluar dari toserba premium ketika sebagian pintu sudah ditutup, tampak perempuan seperti pembelanja, dengan riasan dan busana apik, sedang mengobrol dengan pramuniaga konter kosmetik dan parfum dekat pintu. Mereka adalah satpamwati.
Selain mengawasi pengutil, mereka mengawasi perempuan copet. Umumnya perempuan pembelanja tak langsung curiga jika dipepet sesama hawa, lain halnya jika dipepet pria, apalagi di konter busana wanita. Maka di toserba sering ada copet cewek.
Mal juga punya satpamwan dan satpamwati yang menyamar. Pernah akhir abad lalu, saat mengantre crepes di lantai dasar Citraland (Mal Ciputra), Grogol, Jakbar, tiba-tiba seorang pria dengan pakaian seperti pegawai kantor pulang kerja, dalam kerumunan mengacungkan dompet, dan berseru, “Ini dompet siapa?”
Oh, itu dompet saya. Setelah saya mengakui, dia bilang, “Ya, saya tahu, ini punya Mas!” Tangan kanannya mengacungkan dompet, tangan kirinya menggandeng seorang pria muda. Lalu dua pria lain, yang saya sangka wiraniaga stan elektronik dengan kemeja putih, segera menelikung si copet.
Di ruang satpam saya baru tahu, ternyata para satpam sudah mengawasi target, termasuk dari lantai atas. Seorang penyamar segera masuk ke kerumunan antrean, menunggu si copet beraksi agar dapat melakukan tangkap tangan.
Dulu banget, di terminal kedatangan Bandara Schiphol, Amsterdam, saya dihampiri seorang pria muda berkuncir dengan setelan jin belel. Dia membisiki saya untuk mengikutinya ke sebuah bilik, setelah sebelumnya menunjuklan lencana polisi dan mengatakan dirinya adalah ospir di bandara. Dia curiga karena subuh itu saya tak segera keluar, hanya mondar-mandir tak jelas, padahal saya menunggu rombongan beres urusan bagasinya.
Dia menggeledah koper saya dan bertanya apakah saya membawa drugs. Saya bilang tentu, lalu dia menemukan Norit. Merek teman setia perjalanan ini juga ada di Eropa. Dia tersenyum.

2 Comments
Saya menduga pedagang sayur keliling di perumahan saya itu informan polisi, walaupun dia tidak bawa HT.
Iya, informan harga kebutuhan dapur untuk nyonya polisi dan keluhan warga soal ekonomi