
Ramai kabar bahwa dua anggota DPR, yakni Eko Patrio dan Ahmad Sahroni, dua dari sejumlah wakil rakyat yang membuat publik jengkel, malah pergi ke luar negeri saat demo kemarahan rakyat mendidih. Eko tepergok sedang berbelanja barang KW di Guangzhou, Cina. Sedangkan Sahroni ke Singapura.
Our parliamentary member, Eko Patrio, is busy shopping FAKE GOODS in China with Indonesian taxpayer’s money. @barengwarga @wordfangs @BudiBukanIntel @sighyam https://t.co/FZeBoRMOTl pic.twitter.com/UaFyobkgD6
— Aurelia V (@senjatanuklir) August 29, 2025
Juga muncul berita, anggota Komisi XI, yang membidangi keuangan, sedang berkunjung kerja Australia selama 26 Agustus – 1 September 2025. Dalam agenda ada mata acara menyaksikan Sydney Marathon. Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun (Golkar) dikabarkan ikut maraton.
Ketua Komisi XI nya nih.
Peserta Sydney Marathon.No 12132. https://t.co/CnJitC0HzP pic.twitter.com/jYZ690Eehb
— Ardianto Satriawan (@ardisatriawan) August 30, 2025
Ada tiga tilikan awal:
- Apakah foto Sahroni di ruang tunggu sebuah bandara maupun foto Eko di depan toko itu benar dari sisi waktu dan tempatnya?
- Apakah agenda kunjungan Komisi XI itu benar, begitu pula partisipasi Misbakhun dalam maraton?
- Yang menjadi masalah adalah mereka tak segera membuat penjelasan atau klarifikasi sehingga berseliweran aneka tanggapan negatif dari publik
Adakah yang salah jika seseorang pergi ke luar negeri? Tergantung keperluan, dari berobat, studi, diundang untuk berbicara maupun menerima penghargaan, hingga melancong dan bahkan beribadah. Itu semua adalah hak, memakai uang pribadi maupun sponsor dengan kejelasan kepatutan (bukan gratifikasi).
Mengapa pergi luar negeri dianggap mewah?
- Secara umum, pergi ke luar negeri mana pun itu mahal, dengan catatan biaya tiket ekonomi termurah pesawat dari Jakarta ke Jayapura (mulai Rp4 juta) lebih mahal daripada dari Jakarta ke Singapura (Rp1,5 juta)
- Penerbangan dari Jakarta ke Port Moresby, Papua Nugini, mulai Rp18 juta, tetapi transit di Denpasar, atau Manila, atau Kualalumpur, atau Brisbane dulu; masalahnya pergi ke PNG tak dianggap kemewahan, padahal terbang ke Sydney dengan kursi ekonomi bisa lebih murah
- Maka mewah tidaknya citra luar negeri, juga mentereng tidaknya, itu tergantung tujuan, sehingga ke Singapura yang biaya terbangnya sama bahkan bisa lebih murah daripada ke Batam dianggap mewah, apalagi kalau ke sana untuk berbelanja, jalan-jalan, atau menonton konser
Lalu apa masalah anggota DPR misalnya Sahroni, Eko, dan Komisi XI jika benar ke luar negeri saat dalam negeri sedang bergejolak?
- Citra mewah ke luar negeri tertentu
- Untuk kunjungan pribadi, mereka keluar ongkos sendiri, bisa saja dari dari kas pendapatan di luar gaji dan tunjangan sebagai anggota DPR, namun dalam pengandaian publik mereka bisa nglencer karena dari gaji dan lainnya yang dibayar oleh rakyat melalui negara
- Untuk kunjungan dinas, lebih simpel karena mereka pergi dengan uang saku atas biaya negara, bukan dengan fasilitas ekonomi
- Jika benar Misbakhun sekalian ikut maraton, padahal bayar sendiri, itu namanya bokis, tidak etis, karena uang perjalanan dan akomodasi ditanggung negara
Kemudian soal lain, mereka itu pergi mendadak atau karena rencana?
Belum tentu Sahroni ke Singapura supaya tak salah ngoceh setelah dicopot dari jabatan sebagai waket Komisi III (bidang hukum) lalu ditaruh sebagai anggota Komisi I (pertahanan, luar negeri) — Partai Nasdem tidak me-recall dia — tetapi karena memang ingin berakhir pekan ke sana, suatu hal yang biasa saja baginya, karena sebelum jadi wakil rakyat dia sudah kaya.
Hal serupa juga bisa berlaku untuk Eko, sekjen PAN, waket Komisi VI (perdagangan), mungkin sudah merencanakan pergi ke Cina sebelum ada demo menentang DPR. Adapun untuk Komisi XI, pasti kunjungan ke Australia sudah dirancang jauh hari. Soal Misbakhun, biarlah dia menjelaskan.
Kalau muncul aneka sinisme dari khalayak, itu nasib mereka, risiko sebagai anggota DPR, karena mereka berada di luar negeri yang dicitrakan mewah dalam waktu yang salah. Menjadi anggota parlemen harus siap dihina dan dicaci rakyat, seperti polisi rendahan di lapangan dinista demonstran — padahal dalam urusan lain mereka dimintai tolong warga. Hal itu adalah nilai intrinsik mereka akibat citra korps yang buruk.
Persepsi bisa dan sering tidak logis. Jika menyangkut hal buruk pada pihak yang sedang tidak kita sukai, kita menganggapnya benar, dan lebih penting lagi memuaskan. Puwassss… Marem…

2 Comments
Betul sekali dan saya suka ini :
Berlaku adil kepada pihak yang kita sukai maupun kita benci itu sulit.
Apalagi kalau pihak tersebut tidak segera mengeluarkan klarifikasi. Bisa jalan-jalan ke bulan isunya.
Sampai di bulan tak kembali ke bumi.