
Mulanya tadi saya akan membahas dua foto Kompas tentang demonstrasi yang menjadi kerusuhan kemarin, dengan perusakan fasilitas umum, pembakaran gedung, pembakaran mobil dan sepeda motor milik warga, dan penjarahan.
Dua foto itu adalah jejak kebakaran di kantor Polres Jaktim dan pemulung mempereteli bagian atap halte yang dibakar di Senen, Jakpus. Saya menampilkan jejak, bukan aksinya. Jejak sebagai akibat dalam gambar diam.
Foto pertama menampilkan ironi: baliho 16 program kerja Kapolri Listyo Sigit Prabowo (uh, banyak sekali, melebihi jumlah jari tangan, padahal ingatan manusia tentang jumlah butir dan bunyinya paling banyak lima) dan bekas kebakaran. Adapun foto kedua adalah potret menyedihkan, hasil massa membakar fasilitas umum dan ada orang yang karena kebutuhan perut memungut sisa kebakaran.

Mulanya saya juga akan menulis bahwa di negeri yang lebih maju pun, misalnya di Amerika, mob bisa menjadi riot, diikuti looting, penjarahan. Bahkan akan saya sematkan videonya, ketika orang-orang yang dalam tafsir visual saya bukan orang miskin juga menjarah toko. Tetapi saya urungkan karena bisa ditafsirkan saya membenarkan.
Niat semula saya akan menyampaikan opini saya bahwa sejak awal penanganan oleh polisi itu salah. Sempat tebersit untuk menyematkan gambar selongsong gas air mata kedaluwarsa yang lebih berpotensi membahayakan tubuh.
Gas yang masih baru saja berbahaya, apalagi yang sifat kimiawinya sudah berubah karena waktu. Konvensi Senjata Kimia Internasional melarang penggunaan gas air mata untuk mengatasi huru-hara. Setahu saya Indonesia meratifikasi konvensi itu.
Sejak awal polisi tak bijak, tak tanggap, bahwa kemarahan masyarakat sudah menanjak. Tanpa agitasi dan provokasi pun bisul sudah siap pecah, sakndilalah terjadi peristiwa Barracuda Brimob melindas Affan Kurniawan, dan menewaskannya.
Kita tahu apa yang kemudian terjadi. Di belasan kota. Hingga tengah malam. Sebelum bisul menggembung pol, rakyat sudah jengkel oleh aneka pernyataan dan kebijakan pemerintah dalam ekonomi yang muram, ditambah ocehan dan perilaku anggota DPR.
Artinya memang penyebab utama apalagi satu-satunya bukanlah polisi. Semua keluaran dari tiga aktor di atas berkelindan dan terakumulasi.
Lalu senja tadi media sosial mengabarkan penyerangan dan perusakan terhadap rumah anggota DPR Ahmad Sahroni, diikuti penjarahan. Saya kesal terhadap Sahroni namun saya tak setuju jika orang merusak dan menjarah propertinya. Sama tak setujunya dengan teriakan dalam video pembakaran, mengajak merusak rumah anggota DPR.
Kalau Anda membenci Sahroni, makilah dia. Memang bukan hal mulia, karena anak kecil akan meniru, namun jika dia memerkarakan Anda, akan banyak yang membela Anda. Jangan merusak propertinya apalagi menjarah.
Saya cemas, orang-orang yang tak dapat mengendalikan diri akan melakukan apa pun sesukanya atas nama protes dan amarah. Sejarah kita mencatat itu, tak hanya sekali.
Apa sebenarnya yang sedang berlangsung di republik yang seolah-olah autopilot ini? Sengaja saya tak menyematkan perusakan dan penjarahan rumah Sahroni. Kemarin video Barracuda menggilas Affan pun tak saya sematkan. Gambar hidup kadang lebih merebus emosi. Gambar diam lebih memberi kesempatan kita merenung di tengah arus deras informasi.
Barusan saya temukan pernyataan Rhenald Kasali yang artikulatif.
—

4 Comments
Sepakat, inilah hasil akumulasi amarah pada pemerintah yg merampok dan membunuh rakyatnya sendiri. Rakyat hanya ingin keadilan yg selalu digembar-gemborkan itu 😑
Lalu ada saja yang memperalat
Jengkel, kecewa, marah, itu manusiawi dan boleh saja. Tetapi membakar fasilitas umum, gedung, kendaraan, menjarah kantor, toko, rumah, siapapun yang melakukannya dan siapapun sasarannya, saya tidak setuju.
Apa pun alasannya, menjarah adalah kejahatan. Kalau pelakunya bilang itu baik, berarti orang lain boleh berbuat serupa terhadap properti dia.