
Tak banyak yang saya ketahui tentang manusia silver. Namun saya yakin itu bukankah cita-cita para pelakunya. Mereka ada di mana-mana, meminta uang sedekah, kadang tanpa banyak aksi karena tubuh dibalur cat sablon perak sudah merupakan seni pertunjukan. Sosok mereka, terutama wajah, antara jelas dan tak jelas.
Manusia perak adalah bagian gelandangan dan pengemis, kadang juga pengamen jalanan, dan badut di tepi jalan, yang dilarang oleh banyak perda di pelbagai daerah. Mereka dan satpol PP bermusuhan.
Tadi menjelang pukul tujuh malam saya melihat dua orang manusia perak sedang duduk di tepi Jalan Pasar Kecapi, Jatiwarna, Pondokmelati, Kobek, Jabar. Mereka asyik ngobrol, tak menengadahkan tangan, dan pelintas jalan tak mengacuhkan. Kertas bungkus makanan terbuka di samping mereka. Satu bungkusan belum terbuka. Salah seorang menikmati kepulan sigaret.
Menyebut mereka pemalas rasanya kok menggampangkan masalah. Mereka berbeda dari pengemis tertentu yang sebetulnya tak kesrakat amat. Kini ketika ekonomi sedang berkurang senyuman, untuk pekerjaan kasar pun berebut, misalnya sebagai kuli angkut maupun tukang cuci piring di warung tenda.
Di media sosial banyak video tentang manusia perak. Namun karena tak mencari dengan tekun, saya belum menemukan esei foto jurnalistik tentang manusia perak. Maksud saya konten berupa serangkaian foto dari rumah, merias diri, meminta uang, biaya cat, jumlah perolehan, makan dan minum, sampai membersihkan cat dan pulang ke rumah.
Esei foto dan video dokumenter yang dekat dan mendalam bukanlah hal mudah, tak dapat dikerjakan secara selintas dalam langgam turistik. Jika menyangkut manusia perak, semuanya harus sepersetujuan mereka. Kini ketika media berita, termasuk organisasi pemberitaan yang mengandalkan video, kian berat bisnisnya, konten seperti yang saya bayangkan akan sulit muncul.
Orang sinis bilang, untuk memotret kemiskinan butuh biaya. Apa yang bisa dilakukan oleh media priayi adalah kemewahan bagi media sèkèng yang menggaji wartawannya pun kewalahan.
Tetapi bukankah ada media sosial, lagi pula media berita tak dibutuhkan, bahkan media berita sering memungut konten media sosial? Ehm, baiklah. Media terlembagakan maupun pelantar media sosial sama-sama menghargai integritas pembuat konten, namun ada yang bilang publik tak peduli itu. Malah ada yang berpendapat, menyoal integritas pembuat konten adalah paradigma lama era media cetak dan pembacanya. Baiklah.
Dengan maupun tanpa esei foto dan video dokumenter, tentu kita berharap suatu saat manusia perak dari jempol kaki hingga rambut kepala tinggal sejarah. Padahal manusia perak, seingat saya, baru muncul likuran tahun belakangan. Pelaku awal manusia serupa gerenjeng mungkin sudah punya cucu, dan semoga cucunya tak meneruskan.
Saya belum mencari tahu masalah dermatologis apa saja yang mereka alami. Sedih dan pedih membayangkan tetesan peluh dari kening berkilat perak masuk ke mata.

6 Comments
Sejauh saya tahu, tiada manusia silver di Kota Solo. Saya biasanya melihat mereka saat saya bermobil, bersama istri dan sopir, ketika pergi dari Solo ke Yogyakarta.
“Suwe-suwe opo ora kanker kulite,” komentar istri saya saat melihat para manusia silver itubdi bangjo
Oh di Solo ndak ada? Ajaib juga.
Kesian mereka, melakukan hal berbahaya untuk kulit. Tapi saya ndak bisa berbuat apa-apa 🙈
Kalau nggak salah adanya di bangjo dekat UMS, masuknya wilayah Pabelan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Bukan di Solo kota.
Eh iya ya, ada Kota Surakarta dan wilayah lain dalam aglomerasi Solo Raya.
Di pertigaan lampu merah dekat rumah ada manusia silver, 4 orang. Mereka beraksi hanya di bagian jalan yang mengarah ke Parung. Untuk arah sebaliknya ada pengamen dengan menggunakan cambuk sambil menari. Kata penduduk sekitar mereka dari desa sebelah.
Terlalu rumit Indonesia ini. Terlalu luas, terlalu banyak masalah. Kita gak punya bandingan negeri lain dengan kondisi geografis dan keragaman etnis seperti Indonesia. Kita, eh para bapak bangsa, bisa mendirikan nation-state Indonesia ini ajaib juga.