Warung baru, jual dimsum, dekat polder

Orang bisnis lebih bisa mengendus pemanfaatan ruang dan peluang.

▒ Lama baca < 1 menit

Warung baru jual dimsum di polder Chandra, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Magrib tadi saat melewati polder, saya tersadarkan oleh satu warung baru, menjual dimsum. Harga per porsi mulai Rp12.000. Pekan lalu belum ada. Awal pekan ini pun belum. Ekonomi boleh dikeluhkan tak tersenyum, tetapi masih ada orang mengudap dan menjual aneka jajanan yang bukan lauk.

Ada hal lain yang membuat saya sadar akan satu hal: pemanfaatan ruang dan peluang. Orang bisnis lebih bagus daya endus spasialnya. Warung kecil dengan dinding pelat logam ala kontainer ini memanfaatkan sudut halaman tukang tambal ban. Di depan pagar dulu ada pohon keren. Jalan di situ ramai.

Warung baru jual dimsum di polder Chandra, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Sebelumnya halaman itu kotor, hanya berisi semak dan aneka barang tak terpakai. Ternyata di sudut depan bisa didirikan warung. Riwayat si tukang tambal pun menarik, tipikal sektor informal orang Batak pekerja keras. Dulu hanya tambal ban dan isi angin, memanfaatkan sebuah sisa bangunan kecil nyaris mangkrak, lalu meningkat jual oli dan akhirnya kios kecil onderdil.

Kehidupan ini memang untuk orang-orang tangguh yang tak gampang menyerah. Misalnya penjual dimsum dan tukang tambal ban. Memang sih, di luar mereka ada orang-orang beruntung, kaum superkaya atau ultrakaya, bagian dari sepuluh persen rakyat, yang punya uang sangat banyak dan tahu cara membuat uang beranak, dibantu oleh orang-orang yang paham dan dibayar untuk itu. Hanya kaya tanpa tahu memutar uang tentu amsiong.

2 Comments

Junianto Sabtu 16 Agustus 2025 ~ 06.37 Reply

Keuletan seorang “pejuang rupiah”.

Pemilik Blog Sabtu 16 Agustus 2025 ~ 23.33 Reply

Betul-betul berjuang

Tinggalkan Balasan