
Saya tak setiap pagi membaca berita, karena kadang tak berminat, sekalian mencegah muncul rasa mengkal. Kompas pun kadang saya baca telat. Baru siang, sore, atau bahkan malam saya baca — bisa juga baru hari berikutnya. Telat ya biar. Tetapi kadang dini hari pun saya baca Kompas terbaru. Pokoknya tak tentu. Suka-suka saya.
Malam ini saya buka Kompas edisi Sabtu (16/8/2025), eh ada iklan jaket empat halaman unjuk merayakan ulang tahun ke-80 Indonesia. Dari sisi gaya bahasa dan tipografi, jelas itu bukan gaya Kompas. Ya, itu artikel sponsor alias advertorial.

Bahwa publik, termasuk yang tak baca seluruh isi, akan menyebut Kompas menjadi media agitasi dan propaganda pemerintah, itu nasib. Disebut koran rasa Bowo, ya silakan nrimo. Dibilang koran rasa Sekretariat Negara, itu juga risiko. Padahal yang pasang iklan Kemenkomdigi, penerus Deppen zaman Orde Baru.
Advertorial pemerintah yang sering muncul di Kompas adalah dari instansi pimpinan Budi Gunawan. Dulu atas nama Badan Intelijen Negara. Kini atas nama Kantor Menko Polkam.

Kok bisa? Tak ada larangan bagi pemerintah memasang iklan, artinya membeli ruang dengan membayar, asalkan penerbit media memasang tanda pagar api. Yang kagak bener tuh kalau pemerintah melarang maupun menyuruh media memberitakan sesuatu.

2 Comments
Seingat saya, waktu menjelang Pemilu 2024 juga Kompas kasih jaket berisi visi misi paslon 02, Bang Paman
Ya. Kompas juga memuat advertorial Ganjar. Tapi sayangnya gak semua advertorial dinyatakan blak-blakan sebagai advertorial. Tidak semua pembaca peka terhadap tata letak, desain grafis, dan tipografi tulisan non-redaksi.