Ojek di Sulsel setelah 80 tahun merdeka

Indonesia masih terus berjuang mewujudkan cita-cita kemerdekaan, tapi koruptor dipiara.

▒ Lama baca < 1 menit

Ojek di Luwu Utara setelah 80 tahun merdeka

Foto tunggal di Kompas hari ini (Jumat, 15/8/2025) adalah salah satu kepingan potret Indonesia setelah 80 tahun merdeka. Tumben jarak waktu pemotretan lebih dari sehari, karena foto ini jepretan Selasa, tiga hari lalu.

Kapsi foto karya Reni Sri Ayu:

Seorang pengojek membawa panel surya melewati jalan berlumpur di wilayah Seko, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Selasa (12/8/2025). Panel ini merupakan bagian dari perangkat SuperSUN yang akan dipasang di desa terpencil di Seko.

Terhadap foto ini kita bisa berapologi jangankan di Sulsel, di Jawa saja masih ada wilayah hunian terpencil yang sulit dijangkau oleh kendaraan. Tempat terpencil berarti barang dari luar mahal, sekaligus menjual barang ke luar desa juga sulit. Taruh kata di desa ada sepeda motor, bagaimana dengan harga BBM?

Lalu bagaimana dengan layanan kesehatan dan fasilitas pendidikan? Untuk listrik, pembangkit listrik tenaga surya, dan mungkin juga tenaga angin dan kincir air, adalah solusi. Untuk internet ada koneksi via satelit macam Starlink. Panggilan telepon bisa melalui VoIP seperti WhatsApp. Persoalannya siapa yang membayar itu semua, setidaknya pada tahap awal.

Indonesia teramat luas, dengan 17.000 pulau, yang dihuni penduduk sekitar 35 persen. Cita-cita dan janji akan kemajuan yang adil, makmur, sejahtera, dan merata belum terwujud. Klise, memang. Tetapi jangan menganggap korupsi segala bidang sebagai hal klise yang harus kita terima.

Uang negara adalah dari aneka pajak dan pungutan serta utang, dan pelunasan utang tersebut dari uang rakyat, sampai generasi berikutnya. Tetapi hukuman untuk koruptor sebagai pengkhianat ya cuma gitu-gitu aja. Keluarga koruptor pun tak pernah malu, apalagi setelah si koruptor bebas, bisa lebih awal karena ada korting terungku, lalu pelaku bilang, “Semua sudah berlalu, saya sudah menjalani hukuman.”

2 Comments

mpokb Jumat 15 Agustus 2025 ~ 19.02 Reply

Sudah jadi terpidana pun masih bisa ikut pilkada lagi, masih ada yg pilih pulak 🙈

Pemilik Blog Jumat 15 Agustus 2025 ~ 23.16 Reply

Pemimpin yang tidak beres dihasilkan oleh pemilih yang tidak beres.

Tinggalkan Balasan