
Sekolah-sekolah sudah sebulan masuk setelah libur kenaikan. Tetapi di Indomaret saya lihat masih ada promo back to school. Salah satu yang dijual adalah lunch box. Istilah ini sudah biasa dalam percakapan keseharian karena kita adalah masyarakat dwibahasa.
Kalau kita menyebut kotak makan siang akan boros kata maupun suku kata. Menyebut tromel, hanya nenek buyut anak-anak yang tahu barang segenerasi gembes aluminium tentara itu. Lalu soal lunch box, atau meal box, itu kenapa dijual, bukannya sekarang era MBG? Entahlah. Yang pasti, B itu singkatan “bergizi”, jangan Anda ganti dengan kata lain apalagi yang berhubungan dengan sakit perut.
Saat saya masih TK hingga SMA, bahkan kuliah, tak pernah membawa bekal makanan. Kalau membawa minuman hanya saat TK, setelah kelas satu SD saya malu. Bagaimana menahan lapar dan dahaga selama SD hingga SMA, padahal sangu habis, saya sendiri malah heran, padahal jalan kaki. Orang yang sebaya saya pasti juga. Eh, ralat: saat jam istirahat SD kadang saya minta minum ke teman yang rumahnya dekat sekolah, ada kulkas Westinghouse cempluk.

Anak-anak saya sejak TK sampai SMA berbekal makanan, dikonsumsi sat istirahat pertama. Setelah bekerja, kalau menu di rumah cocok, kadang mereka juga berbekal makanan. Saya setelah bekerja hanya beberapa kali berbekal makanan, terutama jika berangkat pagi dengan menu nasi goreng omelet. Di tempat kerja terakhir saya lebih sering berbekal salad. Juga setelah bekerja, karena belum sadar diet plastik, saya selalu membeli air botolan, wadahnya sekali pakai.
—
SMI naikkan jatah konsumsi menteri dari 118 ribu menjadi 171 ribu per orang
Jatah makan/snack menteri 171.000 per orang
Jatah hotel menteri 9.300.000 per orang per malam
Sementara utk rakyat, MBG hanya 10.000 per siswaGak heran kalo menterinya pada gendur, rakyatnya pada… pic.twitter.com/lRKn6CWv7Q
— ꦩꦸꦂꦠꦝ (@MurtadhaOne1) July 29, 2025
—

6 Comments
Waktu SD dulu juga merasa malu kalau bawa bekal. Kalau bawa gembes hanya sesekali ketika ada acara, tidak setiap hari.
Saya juga heran bagaimana dulu bisa menahan haus ya? Atau mungkin ada solusi yang tidak saya ingat karena sudah saya anggap hal biasa.
Gembes yang salah satu dindingnya mengikuti kontur pinggang. Desain yang bagus itu.
Soal menahan haus itu yang ajaib. Dalam kasus saya, jarak SMP ke rumah paling jauh satu kilometer. Waktu SMA, cuma sekitar 350 meter. Waktu TK dan SD jauh amir, hampir 2 km.
Saya sejak TK sampai entah kelas berapa SD selalu dibekali minum dan kudapan dari rumah. Seingat saya kami sekeluarga selalu makan siang bareng di rumah, bapak pulang dr kantor untuk makan siang. SMP saya diberi uang jajan yang cukup buat beli pempek keliling. SMA sudah diberi uang bulanan termasuk untuk bayar kos.
Saya punya uang saku bulanan kadang setengah bulan setelah kuliah karena kayak anak kos tapi di rumah sendiri, hanya saja ortu di kota lain.
Katanya efisiensi, kok makan siang sampai 171.000 perak per orang? Sampai sekarang belum terlihat menteri mana yg kinerjanya bagus 😐
Semoga pengikut Pak Ndasmu gak akan menjawab, “Dapurmu!”
Maaf ya Mbak Mpok, saya kasar 🙏🫣