
Semoga surat pembaca di Kompas hari ini (Senin, 11/8/2025) terbaca di ponsel Anda. Selesai membaca surat itu saya teringat para pejabat yang suka berbusa bicara teknologi digital dan masa depan, lalu yang terbaru dan bikin latah adalah AI alias akal imitasi — istilah yang dimulai oleh Kompas untuk memadankan artificial intelligence. Ehm, e-Government masih menjadi mantra.
Merayakan 80 tahun Indonesia merdeka, pemerintah akan meluncurkan GovTech. Intinya, dengan GovTech birokrasi akan lebih efisien, semua aplikasi layanan digital instansi akan terintegrasikan. Ada ribuan, bahkan konon likuran ribu aplikasi, milik pemerintah.

GovTech adalah program global. Menurut Bank Dunia, GovTech adalah pendekatan menyeluruh pemerintah untuk modernisasi sektor publik, dengan fokus pada tiga aspek: layanan yang berpusat pada warga negara, aksesibilitas universal, dan transformasi digital (¬ lihat laman ringkasan dari World Bank) .
Di atas kertas, GovTech digadang-gadang akan memprioritaskan keterlibatan warga untuk membangun kepercayaan terhadap pemerintah melalui transparansi yang lebih besar, akses terhadap keadilan, pemantauan yang akurat, dan umpan balik yang tepat waktu.
Kalau semua kutipan tadi terasa abstrak, maka izinkanlah saya bertanya apakah Anda masih dimintai fotokopi KTP namun Anda tak tahu nasib dokumen tersebut. Di luar kerepotan itu, apakah selama ini terbukti pemerintah melindungi data Anda sebagai warga negara?
Lalu data warga RI yang diminta pemerintah Amerika Serikat bagaimana? Kata pemerintah sih masih dinegosiasikan.

2 Comments
Saya jadi membayangkan dokternya sibuk dengan urusan entry data yang banyak itu, ketimbang berkonsentrasi menangani pasien. Di luar itu, saya tidak tahu apakah dokternya masih punya waktu untuk mempelajari ilmu kedokteran terbaru.
Belajar, buka jurnal, dan baca buku. Butuh waktu, tenaga, dan biaya.
Jadi ingat abad lalu paa-intranet. Editor rubrik kesehatan Tempo adakah Jim Supangkat, Seniman Gerakan Seni Rupa Baru. Suatu kali seorang reporter mewawancarai seorang dokter di RSCM. Sang dokter mengaku belum tahu info terbaru tentang isu penyakit lalu dia tanya, “Yang menugasi Anda pasti Jim, kan?”
Periodicals macam JAMA, Elsevier, dulu tak mudah diakses. Tetapi beberapa media sejahtera punya.