Tak pernah jelas, gali menggali sampai kapan

Apa sih susahnya memasang jangka waktu pelaksanaan proyek di lokasi?

▒ Lama baca < 1 menit

Proyek galian kabel FO di Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Proyek galian pipa maupun galian kabel, dan galian lainnya kecuali galian singset, bikin lalu lintas macet. Ada yang dikerjakan siang malam supaya cepat selesai, sehingga kemacetan lalu lintas tak berkepanjangan. Pelapisan ulang aspal jalan tol biasanya dilakukan malam hari di atas pukul delapan, agar lalu lintas tak terlalu macet.

Proyek galian kabel serat optik di Jatimakmur, Pondokgede, Kobek, Jabar, ini tanpa keterangan akan berlangsung berapa lama. Sore hari tak pekerja. Padahal setiap proyek ada penetapan jangka waktu pengerjaannya. Misalnya di polder dekat saya, dalam papan proyek disebut “120 hari kalender“. Tentu rentang waktu tersebut masih absrak, karena khalayak butuh kepastian jalan akan macet dari kapan sampai kapan.

Proyek galian kabel FO di Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com
BERBAHAYA | Pengguna jalan bisa terperosok ke lubang proyek. Spanduk dibengkokkan agar lubangnya tampak?

Nah, spanduk proyek galian selain memuat basa-basi minta maaf mestinya memuat informasi jangka waktu pengerjaan. Bukankah dalam kontrak kerja bohir dan anemer sudah diatur?

Tetapi ya itulah Indonesia. Itu pula hasil kemerdekaan bernama pilkada. Kalau wali kota atau bupati tak peduli cara mengomunikasikan proyek kepada rakyat, anak buahnya juga cuek. Yang penting gaji jangan sampai telat.

Proyek galian kabel FO di Jatimakmur, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Yang direpotkan oleh proyek macam ini bukan hanya para pengendara tetapi juga pejalan kaki. Coba lihat foto kedua: bagaimana kalau saat menghindari pepetan mobil atau sepeda motor maka kaki pejalan kejeblos lubang? Pengendara motor dan sepeda pun karena terpaksa menurunkan kaki saat mengantre juga bisa terperosok. Demikian pula pendorong gerobak bakso, mi ayam, dan lainnya.

7 Comments

Rudy Minggu 3 Agustus 2025 ~ 12.25 Reply

Seingat saya, Bandung di pertengahan tahun 80an, mulai banyak galian di pinggir jalan, yang kalau sudah selesai ditutup ala kadarnya saja. Celakanya, belum sempat bekas urukan tanahnya kering, sudah digali lagi. Saya tidak tahu kenapa tak dilakukan sekali kerja saja. Mungkin karena beda instansi. Yang saya dengar itu banyak galian untuk mencari cincinnya istri walikota yang hilang di lubang WC.

Pemilik Blog Minggu 3 Agustus 2025 ~ 18.06 Reply

Gagasan waras wajar, bukan ideal, galian utilitas cukup Satu untuk segala macam infrastruktur. Ahok pernah kesal ada pipa gas tak jelas di bawah tanah, begitu juga dengan kabel.

Dari sisi proyek, gali lubang tutup lubang itu lebih menarik. Selalu ada duit mengucur.

Cincin istri wali kota?
Bisa jadi cerpen atau film pendek itu.

Ndik Minggu 3 Agustus 2025 ~ 11.40 Reply

Masalah klasik, problemnya Adalah kota tumbuh Tanpa ada permisi (Kalau Kita tidak Mau mengatakan bahwa kota itu tumbuh tidak terencana ya, Karena itu tak mungkin lah, kota besar diisi Oleh stakeholders kelas Wahid)

Kalau melihat kota2 swasta tentu berbeda, bedanya di perencanaan dinamikanya Dan penegakan.

Untunglah di beberapa tempat kota2 bentukan gemeente terencana dan terpola dengan Baik mengikuti dinamika perkembangan kota. Ini beneran Baik bukan photogenik pemberitaan di beberapa spot saja

Ya butuh goodwill Dan duit sih memang, Kita tidak bisa menyalahkan itu jaringan infrastructure punya swasta, mungkin kota om kurang disalah satu atau malah di kedua hal Utama itu.

Om bisa Bantu dengan mendoakan

Pemilik Blog Minggu 3 Agustus 2025 ~ 18.02 Reply

Itulah masalahnya: kota tumbuh organik. Adu kuat.

mpokb Sabtu 2 Agustus 2025 ~ 17.21 Reply

Terkadang main bongkar, main gali, setelah selesai tanah dibiarkan berserakan, huu..

Pemilik Blog Sabtu 2 Agustus 2025 ~ 21.46 Reply

Lha ya itu. Tanah berceceran itu licin. Teman saya dulu patah kaki, naik motor terpeleset tanah galian.

Junianto Sabtu 2 Agustus 2025 ~ 16.18 Reply

Nah, yang penting (sudah) mohon maaf🙈

Tinggalkan Balasan