
Hari ini panas sekali. Saya dan istri berjalan kaki ke warung padang untuk makan siang, sejauh 700 meter dari rumah. Saya bertopi ember — eh, apa bahasa Indonesianya bucket hat? — dan dia berpayung. Belum sampai tujuan, saat memintas labirin perkampungan padat, dia sudah kepayahan. Saya bilang, nanti sehabis makan pesan ojek.
Usai makan, saya pulang jalan kaki. Selama berangkat dan pulang kami tak bersua orang berjalan kaki. Sempat berpapasan dengan anak SMP tetapi mereka bermotor. Pedagang keliling dengan pikulan maupun gerobak dan sepeda motor tak menampak.
Saya sendiri kalau tak terpaksa sebenarnya enggan berjalan kaki di panas. Tetapi saya ingat, di kantor terakhir kadang berangkat siang. Naik ojek ke Terminal Pinangranti, Jaktim, ganti Transjakarta turun di Stasiun Cawang, lalu naik kereta, dan turun di Stasiun Gondangdia, Jakpus kemudian naik ojek ke Jatibaru. Kadang turun di Stasiun Tanahabang, lalu berjalan kaki ke kantor.
Dulu sanggup, selama 2015 sampai 2019. Sekarang rasanya tidak. Mungkin faktor usia. Juga faktor terlalu lama jadi pengangguran, hanya di rumah. Selama perjalanan saya mengurangi penat dengan melihat yang indah. Tetapi yang terbagus saya dapatkan setelah sampai dekat rumah, misalnya kemboja yang menjuntai di pagar. Saban hari saya lihat.
Jangan-jangan yang sebelumnya itu tampak kurang indah karena saya kemrungsung, padahal saya berjalan dalam gegas yang tak secepat dulu. Tetapi di rumah, istri yang tiba lebih dulu karena naik ojek, menyambut, “Kok cepet banget, udah nyampe rumah?”

2 Comments
Saya ingat ketika saya diberi cerita oleh kawan soal kemboja ketika saya bertanya frangipani itu bunga apa sih? Katanya ini bukan tumbuhan asli Indonesia tapi dari Amerika tengah. Entah kenapa di Filipina, Malaysia dan Indonesia sering dijadikan sebagai tanaman di pemakaman. Mungkin karena baunya bisa menyamarkan bau mayat atau seperti bau kuntilanak katanya. Saya tidak percaya, apa dia pernah membaui kuntilanak?
Mungkin karena bunganya menarik, dalam arti besar dan kentara, pohonnya tak rewel, sehingga bisa ditinggal di kuburan untuk meneduhi makam tanpa menjadi terlalu rimbun yang bikin gelap. Mungkin lho
Teman saya mengingatkan jangan tanam kemboja, bahkan yang berupa bonsai, karena kemboja mengundang penunggu.
Tapi beberapa rumah orang Bali di luar Bali menanam kemboja.