
Koes Plus benar ketika berdendang pop Jawa, gula jawa rasené legi dalam “Tuljaenak”. Tetapi lagu tersebut tak memperingatkan ada gula jawa nan keras nian, yang ketika digepuk muntu di atas cobek tidak pecah. Bahkan saya belah dengan pisau, disertai menekan punggung pisau besar pakai telapak tangan, pun sulit.
Kemarin saya tak bermaksud membuat jenang atau gulali alot. Dari sejumlah rujukan daring ada cara melunakkan gula merah yang keras bandel, antara lain dimasukkan ke microwave oven. Saya mencobanya dengan meletakkan sepotong gula di atas tisu dapur yang basah lalu saya masukkan ke dalam oven sekian detik. Tetapi masih keras, saya coba lagi. Hasilnya adalah gula lumer yang alot.

Lalu secara sok kreatif, kemarin siang sepotong gula saya masukkan dalam mangkuk kecil, kemudian saya rendam dalam air hangat, dan wadahnya saya tutup rapat. Maksud saya supaya dalam semalam isi wadah tetap lembap lalu si gula cokelat bukan merah itu melunak.

Tadi pagi istri saya membuka gula kurang ajar nan kementhus itu. Si gula tetap die hard alias wangkot binti wangkal bin ngrèngkèl. Di zaman serdadu punya kewenangan ekstrayudisial memeriksa aktivis, pasti akan menyiksa si keras kepala ideologis golongan die harder. Karena akan membuat sambal brambang asem untuk dijodohkan dengan tempe dan kangkung, istri saya terpaksa mengiris tipis si gula keras.

Kemarin siang saat membuat sambal lotis, istri saya terpaksa merebus gula itu dalam wajan. Hasilnya adalah sambal mirip jenang. Alot. Harus ditambahi air. Foto sambal jenang ada di bawah ini.

Belum pernah kami menjumpai gula jawa sekeras ini. Selama ini kami menyimpannya dalam kotak rapat berjenama Cussons Baby. Ada yang agak keras namun mudah dipatahkan dengan tangan, atau bisa digigit kalau tak peduli orang lain, dan tentu mudah dilumat di atas cobek.
Saya membeli gula jawa ini sekilo di warung langganan pekan lalu. Istri saya ketika mendapati gula kemethak ini langsung mengeluh, “Apa ini gula palsu yang katanya dicampuri pati, ya?”
Sebelumnya kami menitip asisten paruh waktu membelikan gula jawa di dekat rumahnya. Ternyata gulanya sangat lunak, dalam kantong plastik kemudian melumer, harus disendok.
Saya tak tahu di mana masalahnya, pada tahap produksi karena salah penanganan ataukah gula dicampuri unsur lain yang tak lumrah, sehingga ada yang amat keras maupun sangat lembek. Waktu kecil saya suka menyendok gula aren tetapi gulanya cuma agak lunak tersebab lembap, bukan lumer.
Saya tak setuju jika gula merah hasil industri rumah tangga, sehingga produsennya disebut perajin, harus disertifikasi sesuai standar industrial. Hanya menambah birokrasi, kecuali untuk gula merah hasil pabrikan dengan merek — misalnya pun ada. Selain itu, di republik ini sertifikasi bisa untuk mainan berduit.
Misalnya benar bahwa gula semprul sontoloyo wa’ak ndembik ini tergolong palsu atau apalah, jahat benar pelakunya, dan celaka nian konsumennya. Sekali lagi kalau misalnya lho.
Masa sih negeri tercinta diwarnai ketidakpastian dalam banyak hal, termasuk beras, minyak dengan volume disunat, vaksin palsu, dan seterusnya? Orang bisa tuman licik terus-terusan dan menular karena negara membiarkan. Dalam hukum, kelalaian bisa dipidana.
Mari menyosong IC: bukan Indonesia Centennial melainkan Indonesia Cemas 2045.

10 Comments
Di Malaysia disebutnya gula melaka. Saya suka juruh, terutama untuk teman makan lupis atau bubur sumsum, tetapi tidak suka jika dibuat pelengkap untuk makan ketan kukus, pisang goreng atau pancake.
Betul, untuk bubur sumsum dan lopis sip
Kata teman yang tinggal di Bali, gula merah disebut sebagai “gula bali”. Sama seperti di Jawa kita menyebut gula merah sebagai “gula jawa”.
Apa mungkin ini penamaan atas azas inferioritas ya? Karena produksi lokal sehingga diberi nama lokal juga. Maksud saya seperti kita menyebut “roti sumbu” untuk singkong.
Semoga ada antropolog yang bisa menjelaskan.
Dulu waktu saya sekolah, sepatu lokal mirip Kickers dibilang kickers jowo
Kalau saya, gula jawa ndembik ini saya buang saja — mbangane marahi anyel, marakke stres, bikin bludrek.
Nah 👍👍👍
Tahu beda gula aren Dan gula kelapa Om? Bahkan yg gula itu pun ada yg kelas tersendiri, gula Banjarnegara, boja dst dst tergantung wilayah mana dia dibuat. Gampang ya semua terangkum Dalam sebutan gula Merah atau gula Jawa
Terasa beda Kalau Kita bikin kinca
Tebakan Saya gula yg mblenyek itu gula kelapa
Kita nggak ada standar bagaimana gula Jawa itu harus seperti apa final produknya. Mungkin Om bisa mulai meneliti nanti dipaparkan di forum UNESCO hahaha
Nah, saya gak paham varian gula kelapa. Tadi tukang tahu gejrot bilang, gula aren dan gula kelapa itu banyak kelasnya. Tambah bingung saya.
Tapi gula merah keras kepala baru kali ini saya jumpai.
Kalau saya curiganya sih ada gula aren yg dicampur gula putih, jadinya lebih keras, Bang Paman..
Oh gitu ya? Apa gak rugi?