
Kemarin, Sabtu Pahing 19 Juli 2025, adalah seratus hari meninggalnya Titiek Puspa. Artis besar itu berpulang pada 10 April lalu di Jakarta. Saat itu semua media berita berlomba-lomba melaporkan, lengkap dengan cerita samping. Mereka beradu cepat.

Tetapi dalam pacuan berita sela dan adu lekas, jarang ada laporan yang berdaging — kecuali media yang punya arsip internal lengkap karena bermula dari media cetak. Justru konten di media sosial, misalnya Facebook, dari warganet lebih lengkap. Ada yang melampirkan foto lama dan kliping lawas. Tentang hal ini silakan lihat arsip “Kabar duka Titiek Puspa dan laporan media“.

Kalau saja awak media saat itu bersedia meluangkan waktu membaca biografi Titiek Puspa: A Legendary Diva (2008) pasti akan memperoleh banyak bahan. Buku karya Alberthiene Endah, yang kaya akan gambar, itu lengkap dan mendalam. Demikian pula arsip koran dan majalah di Perpustakaan Nasional.

Alberthiene memang penulis biografi jempolan yang piawai menggali cerita tak hanya dari narasumber utama, untuk kemudian mengemasnya sebagai sebuah paket kisah utuh. Namun di sini saya tak hendak mereviu buku tersebut. Saya hanya ingin bergumam panjang menyampaikan keprihatinan saya terhadap media berita.

Jangan-jangan kalau sekarang disebut senja kala itu terlalu sopan. Zaman sudah bergerak jauh, kini dalam era medsos wartawan bukan lagi orang yang lebih dahulu tahu. Dulu media berlangganan kantor berita, memiliki perpustakaan, lalu era medsos membalikkan semuanya. Sumber berita bisa lebih dulu berinisiatif membuat diri dan lembaganya menjadi berita.

Setiap orang bisa menjadi berita. Bahkan si entah siapa bisa menjadi perbincangan di medsos. Ada yang sebentar lalu nyungsep, namun sempat diangkut oleh media berita, dan ada pula yang jejaknya panjang, misalnya para kreator konten yang menjadi penerbit atau stasiun sekaligus pelapor dan penyiar.

Mungkin berlebihan jika ada yang menyebut media berita adalah dunia kemarin. Homeless media dengan aneka video, terutama di YouTube, lebih memberikan banyak hal kepada konsumen informasi, gratis. Perspektif terhadap suatu persoalan politik dan ekonomi, juga lainnya, dikemas sebagainya obrolan dan debat. Yang versi teks ringkas ada di X. Atau yang tak banyak noise di Threads, yang bertutur lebih lengkap ada di Substack dan Medium. Tetapi semuanya teks, bikin penat mata.

Bagi konsumen informasi, video dan podcast audio lebih menghibur ketimbang membaca teks wawancara khusus maupun artikel. Ibarat ikut kuliah dengan dosen yang memikat dalam bertutur, ada diktat pula, maka tanpa membaca buku teks pun sudah cukup. Hidup jangan dibikin mumet oleh teks, kok seperti bersekolah sejak SD tak pernah usai hingga tua.

Dalam situasi dan kondisi macam itulah media berita kini bertahan, entah sampai kapan. Apakah jurnalisme akan tamat? Menurut pikiran cekak saya hari ini, tidak. Akan terjadi seleksi alam, maksud saya oleh pasar. Setiap produk memiliki sasaran, ada yang mampu membangun komunitas, bahkan melibatkan pelanggan dalam suatu grup WhatsApp.

Kalau media berita hanya memuat ulang konten medsos tanpa pendalaman maupun pengembangan, bahkan tak mampu mengangkat suatu isu hasil eksplorasi sendiri, termasuk dalam foto jurnalistik, salahkah jika publik kecewa?
Tentu pernyataan di atas bisa ditangkis, “Publik yang mana? Buktinya trafik kami baik-baik saja. Pendapatan iklan juga lumayan.” Baiklah.
Oh ya, meskipun pos ini bukan revieu buku, saya sertakan data buku:
- Judul: Titiek Puspa: A Legendary Diva
- Penulis: Alberthiene Endah
- Tebal: 358 halaman (tanpa halaman angka Romawi)
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
