
Gerobak yang mangkal tetap itu memasang tulisan jelas: daging burung belibis. Kalau mau boros kata bisa ditambah “goreng”. Karena kalau hanya “belibis goreng” bisa disangka burung utuh, bahkan hidup, digoreng.
Bahasa Indonesia memang tak punya sebutan untuk daging binatang. Tetapi orang tahu, ayam goreng berarti daging ayam goreng. Sedangkan kalimat “harga daging naik” dan “harga telur turun” sudah dipahami bahwa itu menyangkut daging sapi dan telur ayam.

Tentang belibis goreng, saya pernah mengeposkannya pada 2015 berdasarkan foto 2014. Harga per potong dulu Rp3.500. Senja tadi, saat berjalan kaki, saya menanya di tempat yang berbeda dari foto 2014, harganya Rp10.000.
Di luar urusan harga, saya membatin apakah belibis nanti punah? Selama ini saya berpengandaian, hewan kecil di alam bebas sepanjang untuk konsumsi sendiri dalam ekonomi subsisten, bukan untuk dijual, tetapi untuk makanan si penangkap, akan lama punahnya kecuali populasi predator selain manusia bertambah.
Benar tidaknya, Rudy Ndobos lebih paham karena dia biolog yang paham ornitologi. Tetapi untunglah, belibis ternyata bisa diternakkan. Saya baru tahu sekarang, saat menulis ini. Semoga belibis goreng ini hasil budi daya. Eh, misalnya hasil tangkapan mestinya harga lebih mahal karena ongkos kerja.
Abad lalu kalau menanya penjual belibis goreng dalam sepur ekonomi selalu dijawab, “Nangkep di sawah.” Lagi-lagi Rudy lebih paham belibis spesies apa yang dari alam bebas dan mana yang diternakkan untuk digoreng.


6 Comments
Lauk surungan, daging ya agak alot, agak kurang umum Kalau Kita Makan pake nasi.
Gerobakan Karena dikota besar mungkin ya, Kalau di daerah Masih ada dijumpai warung permanent dengan judul iwak manuk. Peminatnya Masih ada Dari yg memang suka hingga yang fomo.
Sisi gelapnya terkadang susah dapat manuk yg dapat memenuhi kebutuhan, kadang ada yg dicampur ayam sayur yg model gimana gitu Dulu ceritanya. Pengunjung yg bukan die hard mungkin nggak bisa membedakan. Sisi gelap disini Jadi Sisi terang untuk pihak manuk tentunya
Ada lagi manuk londo, hasil peternakan.
Bisa juga pergerakan harian, beberapa jenis burung Kuntul melakukan ini. Tempat mereka tidur agak jauh dari tempat mereka mencari makan. Samalah seperti pekerja keras ibu kota yang tidak tinggal di ibu kota.
Oh seperti komuter ya. Kerja di kota, tunggal suburban.
Bahkan di luar provinsi. Kayak saya dulu dan sekolah anak-anak saya.
Saya belum pernah nemu gerobak penjual daging belibis, tapi kalau belibis biasanya mengacu pada genus Dendrocygna, entah itu Belibis polos (Dendocygna javanica) atau Belibis kembang (Dendrocygna arcuata). Kalau yang di video Youtube itu Belibis kembang.
Saya jadi ingat penelitian teman saya soal penangkapan burung liar untuk dikonsumsi di Pantai Utara Jawa. Ada yang burung residen ada yang burung migran, jumlah tangkapannya bisa belasan ribu ekor per bulan.
Jenisnya macam-macam. Kalau yang migran ada Glareola maldivarum, Ixobrychus sinensis, Pluvialis fulva dan P. squatarola. Yang residen ya Dendrocygna, Ardeidae (kuntul dan blekok) dan Rallidae (ayam-ayaman). Produk siap santapnya dinamai sama, ayam goreng. Setahu saya dulu dijual di stasiun kereta api, jamannya pedagang asongan masih bisa masuk peron bahkan masuk gerbong. Sekarang, entah di mana mereka berjualan.
Wah terima kasih, Rud.
BTW pada suatu Desember saya pernah lihat serombongan bangau atau entah apa terbang rendah di atas rumah mertua di Salatiga dalam formasi V. Hanya sekali saya lihat itu.
Ada yang bilang mereka dari utara menuju Kedungombo di selatan. Saya menduga itu burung migran musiman.