
“Lho, sepedamu mana?” tanya istriku. Aku bilang, sepeda sudah aku hibahkan kepada asisten rumah tangga paruh waktu, supaya bisa dipakai anak laki dan suaminya. Seseorang yang aku tawari hanya bilang mau tetapi tiga kali mengatakan entar akan dia ambil.
Istriku menghitung. Ada lebih dari satu sepeda yang aku hibahkan, ditambah satu Vespa Exclusive edisi 1990-an yang aku hibahkan 19 tahun silam. Aku katakan, kalau nanti ada duit ya tuku pit manèh. Kalau perlu beli motor. Dengan syarat: kondisiku sudah memungkinkan untuk mengendarai roda dua.
Ada alasan lain mengapa aku menyingkirkan sepeda. Pertama, supaya tidak bikin sesak teras. Kedua, demi kesehatan mentalku, karena setiap melihat sepeda nganggur aku hanya dapat mengelapi sambil menahan sedih.

Istriku mendengar penjelasanku tanpa menyela. Aku katakan, semenjak saraf nomor tujuh dan sembilan rusak, sehingga aku tuli sebelah, dan keseimbangan badanku buruk, lalu aku terperosok ke parit, dari dua kesenangkanku hanya satu yang masih bisa.
Kesenangan itu adalah bersepeda santai tanpa target dan berjalan kaki. Kini hanya berjalan kaki yang aku bisa. Dan itu pun tak seperti dulu. Kini jauh lebih pelan, jarak tempuh pendek, dan harus berhati-hati karena efek serupa vertigo.
Saat dunia berputar, padahal aku sedang berjalan, bahkan sedang berdiri, aku bisa tiba-tiba ngglimpang. Kalau menyetir mobil tidak akan begitu karena aku duduk dan mobil tak serupa sepeda yang gampang ambruk.
Tentu ada hal lain, berupa keluhan dan pengakuan seputar diriku, dan istriku memakluminya. Aku sudah bertekad untuk berdamai bersama sikon.
Sehari setelah ngobrol, aku berjalan kaki di sekitar area tempat tinggalku. Dengan nyaman kembali melewati jalan setapak yang akhirnya bersemen selebar satu meter namun tetap sulit untuk bagi motor untuk berpapasan itu.
Sudah belasan tahun aku memintas jalan itu sejak sebelum dibeton, dengan berjalan maupun bersepeda, sambil berharap tak bersua ular saat lahan kosong di sebelah jalan setapak berubah jadi rawa-rawa ditumbuhi ilalang tinggi.
Aku kembali lewat sana setelah enam bulan lebih kata hatiku tak mengizinkan aku merambah spot sana, terutama di salah satu ujung tempat aku terjerembap ke parit berlumpur.
Saat itu aku sulit keluar karena parit diisi badanku dan sepeda, namun setiap kali aku bisa berdiri aku terduduk lagi karena dunia berputar. Cerita tentang peristiwa itu ada di arsip. Adapun gambaran tentang spot itu, yang tangkapan layarnya terpajang di atas, ada di arsip lain sebelum aku jatuh.
Trauma adalah luka. Secara medis, istilah ini netral. Luka fisik juga disebut trauma. Namun dalam persepsi masyarakat, trauma identik dengan luka psikis.
Persepsi itu tak salah, apalagi jika menyangkut pengalamanku setelah nyemplung parit tanpa luka badan maupun kepala, antara lain karena aku pakai helm. Kalau nyeri kaki berpindah-pindah, akibat jatuh itu, memang masih. Itu trauma ringan badaniah.
Kenapa jatuh dari sepeda yang terakhir membuatku aku jera, padahal sejak kecil hingga dewasa jatuh itu lumrah? Bahkan setelah aku tua lebih dari sekali jatuh dari sepeda. Pernah saat bersepeda malam hari aku terjatuh di Ujungaspal, Jalan Raya Hankam, karena jalan berlubang.
Jalan rusak tak memungkinkan mobil melaju kencang. Untung helmku memiliki lampu kedip di belakang, dan tiang sadel ada lampu kedip, lampu sen, serta lampu rem, sehingga mobil di belakang melihat aku jatuh. Aku tidak jera.
Kembali kepada pertanyaan, kenapa jatuh yang terakhir sangat mengganggu keseimbangan jiwaku? Jawaban paling mudah adalah karena aku cengeng, sampai aku tak mau menginjak tempat itu. Ada rasa tak nyaman saat membayangkan.
Meski ada rasa bersyukur karena itu bukan parit dalam dengan turap beton atau batu, yang dasarnya beton kering, melainkan lumpur hijau kehitaman nan menjijikkan, apalagi misalnya aku tak berhelm, sehingga aku akan mengalami hal lebih buruk, namun aku merasa tersiksa setiap kali teringat.
Kalimat barusan terlalu panjang. Maksudku aku tersiksa karena yang meracuni benak bukan semata-mata soal jatuh, melainkan hal lain yang saling berkelindan dalam usiaku sekarang.
Tetapi jika boleh jujur, setiap jiwa manusia memiliki kerapuhan, hanya saja kita tak tahu misalnya itu papan kapankah akan retak dan karena apa. Bagi orang lain sangat mungkin itu cemen.
Kini aku dengan perasaan ringan bisa kembali berjalan ke spot itu. Bahkan ada hal yang baru tahu sehingga tempo hari aku poskan di blog. Tentang anjang-anjang bertali rami.
Kutuliskan di sana, pada paragraf kedua, dengan ringan:
Tatkala melewati sebuah spot yang sudah setengah tahun saya hindari karena alasan personal yang nanti saya ceritakan, saya melihat anjang-anjang tanaman merambat.
Aku tak malu menceritakan ini. Karena ini masalah banyak orang. Kita semua memiliki kerapuhan.


10 Comments
Makan makan
Sudah lama gak dengar sambutan eh komen macam ini 😅
Selamat, Paman, karena sudah berani lewat sana lagi. Bukan perkara yang mudah, sih, ini. Saya sendiri juga masih punya beberapa lokasi yang sampai sekarang saya hindari. Sama, karena insiden bersepeda juga. Semoga bisa ikut jejak Paman untuk berdamai dengan jalur-jalur itu.
Bravo Morishige! 👍🙏👏💐
Begitulah Mas Paman, seriap orang punya kerapuhan. Saya dulu beranggapan saya itu superman, kuat. Lha kok sekarang banyak rapuhnya 😁
Sehat sehat ya Mas Paman.
Ya, kita bukan Superman maupun Suparman.
Mari kita jaga kesehatan jiwa dan raga.
🙏💐
Sehat, sehat, sehat, Paman!
Suwun, Lik Jun 🙏
Selamat, Bang Paman.. Sudah berani melewati kembali tempat yang memberi trauma. Wah bocah yang dikasih sepeda pasti girang banget 🙏🌻
Suwun Mbak Mpok.
Kata emaknya, si anak girang, langsung bersihin sepeda dan di pakai, kebetulan pekan lalu masih libur sekolah.
Saya ingetin emaknya untuk selalu ingetin anak pake helm.