
Apa sih bahaya lemak trans? Sabar, saya mau belok dulu. Camilan ini di Alfamart harganya Rp8.900. Kalau membeli dua dalam aplikasi Alfagift dihitung per bungkus Rp5.450. Tawaran nan menggoda. Padahal saya suka, inisialnya I. Tjotjok menemani teh dan kopi.
Lalu? Saya kerepotan membaca teks pada kemasan. Hampir semua bungkus makanan memuat teks kecil. Ada kode QR pun tak saya coba untuk mengetahui apakah kode kotak-kotak itu akan mengantarkan saya ke sebuah laman web berisi informasi si kue.
Itu baru satu hal, bisa membaca atau tidak. Soal berikutnya adalah setelah membaca apakah saya paham atau tidak. Literasi tahap dasar adalah bisa membaca dan menulis, selangkah berikutnya adalah bisa memahami. Tahap lanjutan ini yang mahal, belum tentu klop dengan tingkat pendidikan formal.

Hanya dari bungkus kue. Soal gizi sebangsanya. Bukan soal tata negara, Mahkamah Konstitusi, sampai soal membingungkan macam hermeneutika atau simulakra, dua istilah yang akan dianggap aneh dan mbagusi jika menjadi nama warteg — padahal keren.
Apalagi kandungan unsur dalam makanan, misalnya kue ini, dari seratus orang berapa yang mencari tahu kandungan lemak trans? Jawaban saya bukan asumsi statistik melainkan makin banyak informasi menakutkan perihal asupan bagi tubuh. Padahal info macam itu perlu.
Singkat kata lemak trans, tepatnya lemak trans industrial, adalah lemak hasil hidrogenasi parsial, yaitu penambahan hidrogen pada minyak nabati cair. Maka makanan akan lebih awet dan teksturnya lebih terasa.
Kandungan lemak trans industrial dalam makanan olahan ada yang mencapai 60 persen. Padahal lemak trans alami (ruminansia) dalam tubuh hewan pemamah biak kadarnya jauh lebih rendah, hanya sekitar enam persen. Teks saya yang tampak ilmiah ini menyadur dari Kompas (6/7/2025).

Lemak trans tidak kita butuhkan namun sulit diurai oleh tubuh. Mudah menumpuk dalam darah, sehingga meningkatkan kolesterol jahat (LDL) dan menurunkan kolesterol baik (HDL). Bisa menyumbang penyakit jantung, strok, dan lainnya. Info seputar itu bertebaran. Kita bisa menanya AI gratisan, semoga dia merujuk sumber kompeten.
Lantas? Ketersediaan informasi adalah satu hal, dan kesadaran adalah hal lain. Menyalahkan teks kecil pada bungkus makanan adalah dalih pengelak.

Peringatan bahaya merokok itu besar, dengan gambar, bahkan rokok ilegal pun memakainya. Tetapi perokok masih banyak. Ada saja kilah ala debat kusir, “Pak Anu itu makan minum tertib, nggak ngerokok, nggak ngebir, tapi tamat karena serangan jantung. Pak Itu yang nggak kenal pantangan malah masih gagah padahal lebih tua.”
Ada sih jawaban penangkis, “Kalo Pak Itu bisa tertib, hidupnya akan lebih panjang lagi. Pak Anu akan lebih singkat hidupnya kalo nggak disiplin.”
Kalau saya? Malu saya menjawab. Saya hanya berani mengaku suka ngemil. Bisa ngajari ora bisa nglakoni. Dalam bahasa Jawa disebut Profesor Jarkoni. Saya tak berharap Anda serupa saya. Tetapi saya ingin gaya hidup anak-anak saya, dan kelak cucu saya, akan lebih baik dari saya.
¬ Infografik: WHO Indonesia

2 Comments
Terima kasih untuk penjelasan tentang lemak trans ini, jujurly saya baru tahu.
Selain isu gula dan garam, isu lemak trans memang belum menjadi kesadaran bersama.
Kalau anak belum dewasa, masih ada kesempatan membebaskan selain rajin gerak dan olahraga 🙏