
“Ini emang nggak putih cantik Oom, tapi saya jamin enak,” kata Mbakyu Sayur di samping gerobaknya pagi tadi. Saya ambil sebungkus, Rp5.000 berisi sepuluh. Lalu saya mencicipi. Ternyata lebih enak dari kerupuk gerobak yang terakhir saya beli. Dua kali dia menawari saya ke rumah namun saya tolak.
Warna kerupuk itu tidak putih rata, melainkan krem keabu-abuan. Mengapa beda tampilan dari yang putih, dan manakah yang minyak gorengnya lebih buruk, takkan saya bahas. Lebih penting ini: putih, cantik.
Batasan kecantikan yang dituduh hasil konstruksi industrial adalah cantik itu putih atau sebaliknya. Putih itu bisa sewarna kaukasian maupun kulit terang asiatik seperti Cina, Korea, Jepang, pun Manado dan lainnya, termasuk Jawa yang terang.
Dulu setelah reformasi, ada acara TV untuk belanja yang ditayangkan tengah malam. Krim pemutih wajah sering muncul. Lalu heboh bahaya merkuri. Juga ramai olok-olok hanya putih wajah dan leher, tak sampai kaki. Itu semasa dengan dagelan Jogja: LKMD, landa kok mung ndhasé.
Juga dalam acara tadi ada iklan cairan pengoles puting dan, maaf, labia majora agar tak gelap, bahkan dijanjikan akan memerah. Kini iklan macam itu masih ada di internet bersama afrodisiak.
Putih. Cantik. Saya waktu bocah, bahkan sebelum TK, menganggap anak perempuan yang berkulit terang, berambut lurus, selalu pakai rok bagus, itu cantik. Setelah saya dewasa, mereka yang cantik waktu kecil ternyata ada yang biasa saja.
Putih. Cantik. Tambah lagi: langsing. Itulah yang disebut cantik. Lalu kampanye The Body Shop sebelum era L’Oreal membantah mitos warna kulit. Serupa Benetton, milik politikus hijau Italia Luciano Benetton, dengan pesan united colors. Memang sih pendekatannya lebih dari spirit multikultural dan egelitarian, ya kesetaraan dalam aneka hal, dengan besutan foto karya Oliviero Toscani.
Kampanye Dove saya anggap lebih tegas: cantik itu tidak harus putih maupun langsing. Hal itu berbeda dari iklan TV dari Pond’s Institute. Maka saya saat itu berseloroh alumnae — bentuk jamak alumna, namun KBBI tak mengakui — sekolah tinggi dari yang cantik adalah dari Pond’s. Dalam video iklan sejumlah perempuan putih langsing tinggi, tipikal model Asia, keluar dari gedung berkaca. Saya didebat dari sisi lain: institute belum tentu sekolah dan seterusnya. Baiklah.
Putih. Cantik. Barat sudah lebih dulu mengoreksi itu. Black is the new white dimaknai berbeda oleh sebagian orang, menyangkut warna kulit. Dalam istilah anak sekarang, “Nggak gitu konsepnya.”
Kemunculan Iman Abdulmadjid, yang kemudian jadi istri David Bowie, dianggap bukan pengecualian karena mitos sudah pudar, dan kebetulan wanita kulit putih senang jika tanned habis berlibur dengan belang bikini. Soal hitam, Grace Jones muncul lebih dahulu.
Agnes Monica, setelah dewasa dan menjadi Agnezmo, pernah berani mengemas diri dengan tampil tanned. Mungkin ada yang berkomentar, “Udah bagus kulitnya putih bersih kok dibikin gosong. Pake duit gede lagi.”
Lalu apakah saya masih ditelikung definisi cantik itu putih, langsing, berambut lurus? Lain kali saja saya jawab.


2 Comments
LKMD. Huahaha, lawas tenan!
Lha yes noo…