
Halah, foto kabur, kurang tajam pula, macam ini kok dimuat di koran. Namun bagi saya foto berita tunggal ini justru menarik. Sebagai foto jurnalistik, kapsi telah membingkaikan konteks.
Kapsi dalam foto Kompas hari ini (Selasa, 8/7/2025), hasil bidikan Agus Susanto:
Pengendara sepeda motor melintas di dekat iklan transit yang terpasang di bus Transjakartadi Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (7/7/2025). Total belanja iklan di Indonesia tahun 2025 diperkirakan 4 miliar-7 miliar dollar AS.
Ringkas: 31 kata, 223 karakter. Namun kapsi tersebut telah mengantarkan pemahaman pembaca terhadap gambar blur pengendara sepeda motor berboncengan dengan latar iklan transit pada bus kota. Rambut pembonceng kumitir tersapa angin.
Saya tak tahu saat itu busnya diam atau berjalan. Kalau bus dan motor sama-sama bergerak, pembekuan adegan dua subjek berbeda kecepatan laju ini menarik. Bisa karena kebetulan, bisa pula karena dorongan naluriah sang pewarta foto dengan perencanaan sampai eksekusi yang serbacepat.
Saya juga tak tahu apakah foto ini hasil pengekropan dari foto horizontal. Tak penting bagi saya. Lalu apa yang penting selain konteks? Jeptret dulu, cerita belakangan. Untuk foto jurnalistik ini, data belanja iklan (advertising spend) bisa didapatkan di kantor redaksi.
Iwan Setiyawan, editor foto Kompas, menulis dalam “Metode EDFAT dalam Fotografi“:
Di dunia foto jurnalistik lama, cara tersebut dikenal dengan metode: pikirkan, lihat, gerak, dan potret.
EDFAT adalah akronim entire, details, frame, angle, time. Bloger juga dapat menerapkan prinsip itu secara santai: jepret, melamun, atau tak usah memikirkan jepretan, nanti saat sela memeriksa foto di ponsel, lalu menulis.
Saya sangat sering menulis tanpa kerangka dalam benak. Semuanya mengalir, kadang saya selingi mencari rujukan, termasuk tautan internal di blog random ini.
Saya bukan fotografer apalagi pewarta foto, namun di blog ini banyak pos, atau posting, yang bertolak dari foto, kemudian saya merangkai bualan. Karena yang saya tulis bukanlah makalah tentu tanpa beban.
Akan tetapi saya sering mendengar keluhan macam ini: “Motretnya sih gampang, tapi kita nggak tau harus cerita apa.” Lagi-lagi karena bukan makalah, maka tinggal tulis saja, tanpa membuang waktu memikirkan judul menarik dan paragraf pembuka yang memancing.
Ingat, kita menulis blog di ponsel dan komputer, bukan dengan mesin tik dan kertas. Dalam peranti digital, penyuntingan setelah tulisan jadi tak perlu Tipp-Ex maupun merek lain cairan korektor.
Menulis adalah olah benak.

8 Comments
Lain ladang lain belalang. Saya nulis pakai notes di ponsel, begitu mau diunggah ke blog baru kepikiran nyari foto yg pas. Foto pas lho ya, bukan pasfoto 😀 Kalau istilah seorang teman mengomentari, di blog saya itu “foto hanya sebagai pemanis.” Makin ke sini makin males milih foto. Padahal di ponsel banyak, nyaris kepenuhan. Makanya saya suka Blogombal ini, akeh gambare 😀
Begitulah, beda orang beda kebiasaan.
Dari sisi saya, berarti saya kurang percaya pada kekuatan kata karena masih butuh gambar. Tentu ada pembelaan diri, lha wong saya menulis bertolak dari gambar. 🫣🙈
Jadi ingat, abad laloe Paman sering nulis panduan ngeblog di blog Paman yang di Dagdigdug….
Masa lalu. 🙈🫣
Saya juga begitu, kalau ada gambar/foto menarik saya simpan dulu di ponsel, cerita menyusul belakangan. Kadang saya menulis juga tanpa foto. Bualannya juga dibuat tanpa kerangka, tulis saja, sambil rebahan pula (saya menulis pakai jetpack di ponsel).
Mari bersalaman. Saya juga pake Jetpack di hape, dipermudah oleh SwiftKey untuk ngetik
Tetiba tersesat di sini gara2 chatgpt 😃 . Halo Mas Tyo …
Lho? Haloooo Iyan. Apa kabar? Lama banget kita tak bersua. Oke saya akan lanjut ke japri. 🙏😇