
Dalam rumusan sederhana, banjir adalah sebidang permukaan yang biasanya kering tetapi menjadi terbenam tersebab volume air yang meningkat. Bisa dangkal, bisa tinggi. Mungkin sebentar, mungkin lama. Dengan maupun sonder arus alir. Tadi malam (Ahad, 6/7/2025) jalan depan rumah saya menjadi kali dangkal. Sampah terhanyutkan ke arah kanal.

Sebut saja saya tinggal di Jalan Pertama, maka di Jalan Kedua, yang paralel dengan jalan rumah saya, kali dadakannya lebih tinggi. Tadi pagi warga sana masih membenahi tanaman pot yang yang dirobohkan arus. Tadi malam air sampai ke teras atau carport. Jika ada mobil lewat, air pun tersibak, gelombangnya mendorong air ke ruang tamu.
Sejauh ini carport saya tak dijamah air kali dadakan. Misalnya ada mobil lewat pun rumah saya masih kering. Seperti tempat lain, dulu tak pernah begitu. Namun sepuluh tahun belakangan kami terbiasa, sehingga setiap kali hujan deras dan lama maka warga pun waswas dan melaporkan perkembangan via grup WhatsApp RT.
Saling menggerutui dan menyumpahi
Pada 1993, ketika saya tinggal di kompleks ini, masih ada setu atau danau kecil. Kemudian setu itu diuruk menjadi perumahan.
Jauh di belakang rumah saya, di luar kompleks, dulu masih ada sawah, empang, dan kebun sayur, orang bikin bata merah juga ada, kini juga menjadi perumahan, tembus ke jalan raya di Jatimakmur, penghubung Pondokgede dan pusat Kobek.
Hampir semua kebun dengan tanaman keras di kampung pengitar kompleks saya, yang secara topografis lebih tinggi, kini berisi bangunan, yang dulu jalan tanah kini dibeton.
Dari kacamata sepihak nan egosentris, kami warga kompleks dirugikan. Tetapi kompleks saya, yang dibangun medio 1980-an, berdiri di atas lahan yang sebelumnya sawah, dan sebagian memapras tebing Kampung Bulaktinggi — lahan kosong di atas tebing itu akhirnya jadi kompleks juga.
Artinya, kehadiran kompleks saya, yang muncul lebih awal, pasti dulu juga membawa dampak. Barangkali warga lama yang dirugikan pun menyumpahi kami.
Ahad malam 6 Juni 2025 @blogombal pic.twitter.com/QFwC4uIw8r
— Gambar Hidup (@gbrhdp) July 7, 2025
Informasi dan regulasi
Terlalu panjang jika masalahnya saya urai di sini. Intinya, kota tumbuh secara organik, regulasi bangunan tak ditegakkan, sementara pemda dulu tak punya rancangan induk tata ruang. Atau, sudah ada itu namun tak dijalankan. Sudah jamak jika dulu data citra satelit dan kertas data penggunaan lahan di dinas agraria jauh berbeda. Belum lagi soal tata kelola DAS.
Lalu ketika terjadi banjir, semua pihak — termasuk warga dan pengembang — saling menyalahkan. Orang yang bermukim lebih awal merasa dirugikan oleh perkembangan area. Pengembang hakulyakin saat akan membangun semua kondisi bebas banjir — bukan bebas untuk dibanjiri.
Nasihat jangan membeli rumah di kompleks yang lebih rendah dari jalan raya mungkin benar. Tetapi meskipun di sisi luar kompleks tanahnya lebih rendah, belum tentu perumahan di sana aman dari banjir.
Taruh kata dulu peta kontur terperinci mudah didapatkan, belum tentu kita akan mendapatkan lokasi calon rumah yang bebas dari banjir. Ada kendala biaya dan mental untuk berumah di tengah bulak sepi incaran kecu tanpa akses masuk untuk mobil, padahal PLTS masih mahal dan telepon satelit hanya untuk kapal dan pertambangan.
Dalam kasus kompleks saya, kampung seberang, yang lebih tinggi dari jalan raya, akhirnya juga padat rumah. Air dari gang-gang sana menyeberang jalan ke area kami, sehingga jalan setelah gerbang menjadi kali selutut nan deras arusnya saat hujan parah.

Lalu? Mari bicara hal lain. Di jalan penghubung Jalan Pertama dan Kedua tadi saya lihat ada gundukan pasir bercampur semen, milik rumah yang sedang direnovasi.
Aneh, kenapa tak hanyut semua, padahal tadi malam jalan itu jadi kali. Motor dalam video datang dari jalan ini. Kantong semen yang teronggok, entah apa isinya, saya dupak. Isinya belum mengeras.
