Kalah rupa, kalah cuan, kalah-kalahan

Tema abadi itu soal diri yang menyangkut tampang, kemasan.

▒ Lama baca 2 menit

Topik wajah tak pernah usai seturut regenerasi. Angkatan tua sudah puas dengan keadaan, kaum penerus masih berkeluh.

Sebuah stiker motor di Surakarta, Jateng, 18 tahun silam menyuarakan isi hati pemiliknya: 100% asli pusing. Kalah rupa, kalah harta, kalah harta.

Stiker serba kalah gaya Solo — Blogombal.com

Mestinya dia menoleh ke dagelan Mataram zaman bapaknya muda, tentang seorang pemuda di depan ayah seorang gadis: “Dalam soal kemiskinan, saya ini ndak pernah kalah, Pak.”

Wajah bertaut dengan penerimaan sosial. Waktu muda saya berpendapat, bagi cewek cantik dan atau menarik akan lebih banyak pintu terbuka baginya.

Setelah tua, saya mengamati cewek yang masa mudanya seperti saya sebutkan tadi memang lebih berkembang. Titian kariernya lebih menanjak namun tergapai.

Dahulu dalam buku teks psikologi komunikasi ada contoh ekseperimen studi perilaku. Di sebuah kampus ada dua kelas sampel percobaan, dengan dosen bo’ongan seorang aktris teater.

Di kelas pertama, sang aktris tampil sebagai wanita cantik cemerlang percaya diri. Di kelas kedua dia tampil sebagai perempuan bersahaja tanpa kemampuan berbicara yang memikat.

Kesimpulan kelas pertama: sungguh dosen yang cantik, cerdas, dan menguasai masalah. Adapun kelas kedua berpendapat si dosen tak berkompeten, dan menjemukan. Padahal materi yang dia bawakan sama.

Maka dalam wawancara rekrutmen kita berusaha tampil mengesankan secara pas. Artinya tak memberikan kesan berlebihan dalam tampilan, sesuai kelaziman sebuah bidang profesi.

Tetapi apakah kehidupan sehitam putih itu? Tentu tidak. Jika menyangkut jodoh, pasal kecocokan resiprokal sangat berperan. Maka anehlah jika seorang ibu menggerutu. Cewek teman anaknya biasa saja, namun gonta-ganti cowok, dan menikah lebih cepat daripada putrinya.

Ibu lain berpendapat, bagi cowok kalau tidak ganteng itu tenang saja, karena pasti ada yang mau, “Buktinya papanya anak-anak juga biasa aja, dulu nggak ada cewek kompetisi demi dia. Kalo aku kan banyak yang naksir.”

Baiklah, kita sebut saja ibu itu bukan pemenang persaingan sengit. Si pemenang adalah sang jejaka biasa, menyingkirkan sejumlah rival. Namun keduanya, masing-masing, menaklukkan hati pasangannya. Dengan segala komprominya karena perkawinan berisi kompromi dan toleransi yang tak pernah jelas garisnya.

I’m not an actor, I’m not a star
And I don’t even have my own car

Tinggalkan Balasan