Sedia minuman sebelum hujan

Inilah salah satu benda fungsional yang tak cocok untuk pria oke.

▒ Lama baca < 1 menit

Payung lipat model botol SMA Regina Pacis Jakarta — Blogombal.com

Pertama kali tahu barang ini saya menyangka botol. Tadi di rak dia masih mendekam dalam wadah tembaga. Dia jarang dilibatkan dalam kehidupan kami, padahal barang dengan fungsi serupa kini tinggal tiga, yang dua bening.

Ketika botol itu saya ambil, istri saya heran, “Buat apa?” Ya, karena hari mulai panas. Padahal si botol adalah payung lipat. Bukan barang model baru.

Payung lipat model botol SMA Regina Pacis Jakarta — Blogombal.com

Tentang payung lipat, dulu pada suatu hari seorang perempuan, cerpenis, penulis fesyen, yang setelah keluar dari medianya dia menjadi kolumnis fesyen di The Jakarta Post, dan penulis naskah film, sesekali publisis, berkisah tentang seorang pria yang menurutnya oke.

“Tapi Mas,” katanya, “sayang banget. Dia bawa payung lipat. Hihihi…”

“Lho emang salah bawa payung lipat? Ini seharian hujan dari pagi. Aku juga bawa payung lipat di ransel,” kata saya.

Dia terperangah. Lalu tertawa. Saya santai saja karena bukan pria oke. Entahlah apakah Karl Lagerfeld dengan kipasnya dia anggap aneh. Iwan Tirta saat panas sumuk pol pernah saya lihat kêpêtan, berkipas angin lipat.

Sayang saat itu, abad lalu, ketika cerita tentang pria oke berpayung lipat saya dengar, belum ada payung botol. Lebih penting lagi belum ada lokapasar yang merupakan palugada tambun.

Payung lipat model botol SMA Regina Pacis Jakarta — Blogombal.com

Payung botol ini setelah dilipat sehabis dipakai maka airnya tak menetes karena terwadahi tabung. Yang merepotkan adalah utusan melipat. Untuk melipat payung kering saja saya dapat ponten buruk dari istri, apalagi payung basah.

Kini saya berharap salah satu pembaca blog ini, yakni si Badu, takkan berkomentar. Lebih baik baginya membuat cerpen tentang payung, atau sekalian ide film pendek perihal payung untuk pitching.

Payung lipat model botol SMA Regina Pacis Jakarta — Blogombal.com

“Pikiran itu seperti payung. Paling berguna saat terbuka.”

¬ Walter Gropius (1883—1963), arsitek, pendiri Sekolah Bauhaus

4 Comments

Badu Jumat 27 Juni 2025 ~ 11.48 Reply

Waktu saya kecil, sekitar akhir dekade ’80-an, ada hajatan di rumah simbah saya di kaki gunung, saya melihat beberapa tetangga ikut bantu-bantu membuat payung dekorasi dari kertas dan rangka bambu. Saya sudah lupa detil bahannya; jenis kertas, warna (ingatan samar-samar: sepertinya krem), digambar atau polos saja, dsb., tapi saya ingat betul mereka merekatkan kertas ke rangka bambu itu bukan pakai lem, melainkan getah sawo!

Di rumah simbah memang ada pohon sawo, dan getah putih di buahnya yg belum matang saya tahu memang lengket, tapi bahwa ternyata itu bisa dimanfaatkan sebagai lem dan cukup kuat, betul-betul memukau untuk anak usia 7. Kalau pakai upa (butir nasi), sebagai perekat sederhana sih saya sudah tahu, karena pelajaran prakarya di kelas kadang pakai itu 😀 😀

BTW, saya juga selalu sedia payung lipat di dalam tas. Malah baru tahu ada payung botol ini, wah oke banget. Payungnya lho ya, bukan sayanya :)))

Waduh, kok malah jadi komentar 😛

Pemilik Blog Jumat 27 Juni 2025 ~ 12.26 Reply

Mungkin menamai kertas payung. Biasanya kertas payung dipernis agar tahan air. Payung Juwiring Klaten dan Ambarawa dulu juga begitu, tetapi gagangnya dari kayu melinjo. Di Salatiga, pemakai payung macam itu adalah para ekspat bule.

Saya baru tahu getah sawo bisa untuk lem. Kalau lem upa pernah saya blogkan. Silakan cari.

Terima kasih sudah komen 🫣🫣🫣

mpokb Jumat 27 Juni 2025 ~ 00.52 Reply

Payung Regina Pacis. Bagus juga kalau dibuat motif kotak2 biru merah 😃

Pemilik Blog Jumat 27 Juni 2025 ~ 12.33 Reply

Seperti rok seragam kotak-kotak yang selutut itu ya?

Di SMAN tertentu, rok abu-abu dibikin ngepas menampakkan kontur pinggul tapi dibiarkan, dan bajunya ngepres, malah mirip cropped. Aneh 🙈

Tinggalkan Balasan