Lalat menghinggapi mangga

Sebetulnya berapa persen kemungkinan kita sakit karena makan buah berlalat?

▒ Lama baca < 1 menit

Lalat hinggap di atas mangga terkupas di kios buah Mugi Barokah — Blogombal.com

Tumben lalat buah ini lamban, tidak tanggap darurat langsung enyah dari mangga yang separuh terkupas. Dalam dua jepretan pertama ponsel saya dia langsung kabur. Namun pada jepretan kedua dan setelahnya, bahkan setelah ponsel makin mendekatinya, dia tetap pede, menclok menikmati mempelam.

Tentu tidak dekat sekali menghampiri mangga sampai saya dapat memanfaatkan makro karena ponsel saya tak memiliki fasilitas itu. Foto pertama dan kedua di sini adalah hasil cropping. Adapun foto ketiga adalah jarak bidik senyatanya setelah ponsel makin mendekati lalat.

Lalat hinggap di atas mangga terkupas di kios buah Mugi Barokah — Blogombal.com

“Mangga ini pasti manis, lha itu ada lalatnya,” kata seorang perempuan kepada suaminya di kios buah itu dalam bahasa Jawa. Sang suami manggut-manggut, menemani istri memilih buah, kemudian asyik mengamati mobil listrik yang barusan datang.

Benarkah lalat hinggap karena mangganya manis? Saya tak bertabayun kepada lalat karena di antara kami ada perbedaan bahasa. Lebih penting bagi saya mendapati pembeli lain memotong mangga yang barusan dihinggapi lalat itu lalu memakannya. Sungguh berani dan yakin akan kekebalan tubuhnya. Konon orang macam itu malah jarang sakit karena masalah higiene.

Lalat hinggap di atas mangga terkupas di kios buah Mugi Barokah — Blogombal.com

2 Comments

Ndik Selasa 17 Juni 2025 ~ 18.57 Reply

Kewan di pakanan, apapun itu berarti sudah offside. Utamanya jika pakanan itu dagangan. No offense Ini rumus Baku. Ada di buku kecil edaran dinkes Kalau Kita ngurus legalisasi dagangan. Selebihnya di common sense Kita.

Saya terkadang heran dengan semakin banyaknya orang kemproh bangga mengaktualisasi diri belakangan Ini. Ya, tak cuma penjual, pembeli beberapa Kali juga saya temui tak mau kalah untuk mengekspresikan berapa kemprohnya beliau2 Ini terkait pakanan Dan kewan.

Banyak pet lover yg rodo over (Dan mungkin bisa dianggap kurang educated) yg menyertakan kasih sayang ke ingon2nya itu Dalam aktivitas jual beli, entahlah mungkin didalam dapur si ingon2 juga diajak diskusi resep dan mencicipi. Pun ada yg pembeli yg koyone potongane sugih tapi jebule sesama animalia juga, membawa kandang ditaruh dimeja Makan publik, isine ingon2 Dan Makan bersama saudaranya yg berkaki 4.

Kita nggak Tahu si kewan itu bar ngambus2 telek e dewe atau telek kewan lain terus ambung ambungan Dan Makan Sama saudaranya yg berbeda spesies yg dipisahkan berjuta tahun lampau, menjadi hominidae. Jan Ra mutu tenan.

Sebagaimana Kita tidak bisa memaksa orang lain, saya biasanya hanya ngalah cabut Dari situ, setelah mbayar Makanan yg Telah disajikan (yg kadang sudah setengah Jalan) tentunya.

Saya memang customer pemilih yg setia sebenarnya, beberapa warung langganan terpaksa tak tinggal Karena biasanya Sejak Dari warung krepo lambat laun rodo sugih lalu ngopeni ingon2 dengan alasan macam2. Tak masalah, sepanjang yg si ingon2 Dan pakanan yg dijual memiliki batasan yg jelas Dan rigid. Gampang ya? Enggak, fasisme di diri Kita kadang tidak mempercayai si bakul itu minimal selalu cuci tangan dengan benar, sebanyak frekuensi Dia nguyel2 ingon2nya (yg bisa ratusan Kali), mengganti Baju atau apron setelah terkontaminasi kewan dsb, biasane paling hanya upyuk2 sepantasnya di ember air bilasannya cucian.

Sebagai catatan Saya tidak anti kewan, saya pernah ngopeni asu, unggas, jangkrik Dan kewan lain yg kadang kurang umum dipiara di lingkungan. Tentang si ingon2 itu demi menyenangkan si empunya kadang juga tak uyel2 dengan catatan tuntas sudah urusan kuliner saya. Sambil menakar Dan mencandai, “ingon2mu lemu ya, iso Sak wajan iki.” Yg biasanya sambil merengut si ingon2 langsung di rebut sambil disikep.

Pemilik Blog Selasa 17 Juni 2025 ~ 21.30 Reply

Guyon sakwajan itu terlalu 🙈🙈🙈

Tinggalkan Balasan