
Beberapa warga, termasuk pelintas, merubung toko berjalan berupa pikap itu. Moko, atau mobil toko, yang tak beratap itu menjual barang yang juga ada di Alfamart, dan warung kelontong sebelah minimarket itu. Kalau moko itu juga jual oli, mungkin kios di situ protes.

Moko itu tak mangkal di situ. Kebetulan saja dia berhenti saat berjalan menjajakan dagangan karena ada orang menyetop ingin membeli. Lalu datanglah orang lain, lagi, dan lagi. Dari sepiker terdengar tawaran, “Semua goceng, goceng, goceng! Lima ribu! Kecuali sapu!”

Isi moko itu alat rumah tangga. Namun si penjual menyebutnya perabot. Kalau dia hanya mengatakan perabotan, persepsi orang lebih ke meja, kursi, dan lemari serta rak. Maka dari sepiker selalu terdengar, “Parabot… parabot!” Umumnya moko macam ini dijalankan oleh orang Sunda.

Saya pernah memotret dan menulis moko alat rumah tangga ini pada 2022. Beda penjual, dagangannya lebih banyak. Namun keduanya adalah contoh ekonomi rakyat yang liat, tak mudah menyerah, tak banyak menuntut fasilitas kepada pemerintah.
Moko. Mobil-toko. Tanpa atap di musim hujan. Dagangan serba-Rp5.000. | @blogombal pic.twitter.com/fbu9V3cper
— Gambar Hidup (@gbrhdp) December 29, 2022
