
Dari tempat parkir yang sepi saya lihat di teras gereja ada sebutir jambu air tergeletak di sudut meja. Tadi malam tak ada kegiatan, tak ada latihan paduan suara maupun gamelan, hanya ada beberapa remaja datang untuk mengikuti katekisasi. Jadi, itu jambu siapa?
Satpamwan tak peduli. “Ambil aja, Pak,” katanya. Jambu itu jatuhan dari pohon di pelataran gereja. Si buah tidak retak. Di sana juga ada pohon mangga dan rambutan.

Orang yang datang kemudian juga tak memedulikan jambu itu. Maka dengan ringan hati saya ambil buah itu. Lalu setelah urusan selesai, jambu itu saya bawa pulang. Saya tidak merasa mencuri. Semoga tak menjadi bahan ajar di sekolah Minggu tentang seorang bapak mengambil buah tak bertuan maupun tak bernyonya.

Enakkah? Biasa saja. Kurang manis dan cenderung asam. Tak semanis dan semerah jambu jamaika, bahkan tak sebesar yang dulu beberapa kali dibawakan sejawat dari petikan pohon sendiri. Namun ada rasa senang menemukan buah. Entah kenapa. Mungkin itu endapan sensasi masa bocah. Barangkali Anda sebagai orang dewasa juga pernah mengalami?
—


2 Comments
Jambu air tapi kok seperti jambu bol ya, Bang Paman? Sayang jambu bol sudah jarang dijual..
Sebenarnya ini jambu bol, salah satu jenis jambu air yang umumnya jambon eh pink — mungkin dari sana asal kata merah jambu