Mainan bocah, entah tradisional entah bukan

Misalnya mainan lawasan tak lagi menarik bagi cucu Anda, bisa buat hiasan.

▒ Lama baca < 1 menit

Mainan tradisional bocah di depan Gudeg Bu Amad Jogja — Blogombal.com

Hanya sekilas saya mengamati isi kotak kayu berisi mainan di depan warung gudeg Bu Amad, Selokan Mataram, Jogja, karena mobil adik saya sudah menunggu. Setelah meminta izin penjualnya, saya menjepret dengan ponsel.

Ada bermacam-macam mainan dalam kotak dagangan itu. Itu mainan tanpa baterai. Tanpa mekanis berpegas dan beroda gigi. Orang menyebutnya mainan tradisional. Tetapi apa batasan mainan tradisional, saya tidak tahu. Apakah jet tempur dari kayu termasuk tradisional?

Mainan tradisional bocah di depan Gudeg Bu Amad Jogja — Blogombal.com

Sebagian mainan itu pernah mewarnai masa kecil saya dan pembaca blog ini yang segenerasi dengan saya. Tetapi anak-anak saya, perempuan semua, tak akrab dengan mainan ini. Zamannya sudah berbeda. Lagi pula di depan gerbang SD mereka dulu tak ada yang menjual. Kalau penjual yoyo kayu sih tampaknya pernah ada.

Mainan tradisional bocah di depan Gudeg Bu Amad Jogja — Blogombal.com

Gasing bambu yang berbunyi saat berpusing juga ada dalam kotak. Saya tak tahu apakah cucu teman saya dapat memainkannya. Adapun gasing yang oleh orang Jawa disebut gangsingan pathu atau pathon, dari kayu pejal bertaji besi, saya tak tahu apakah anak sekarang masih memainkannya.

Mainan tradisional bocah di depan Gudeg Bu Amad Jogja — Blogombal.com

Ingat gasing ingat almarhum Endi Aras, kolektor mainan tradisional terutama gasing. Dia teman SMA saya di Salatiga, Jateng. Ketika saya sudah kuliah di Yogya, dia kadang ke rumah saya, bermain dengan adik saya. Kami terakhir bersua singkat di TIM, Jakpus, saat sama-sama menyaksikan tontonan, 2018, namun lampu ruang sudah menggelap karena pertunjukan segera dimulai. Endi pernah menjadi manajer Iwan Fals.

2 Comments

@sandalian Kamis 22 Mei 2025 ~ 00.05 Reply

Selain ketapel, memiliki dan bermain gangsingan menjadi semacam hal wajib di lingkungan kecil saya.

Saya suka gangsingan dari kayu johar (juwar) karena ringan dan mudah dimainkan tapi kalahan kalau sedang main pathon atau bentur-benturan.

Setelah mampu membuat gangsingan dari sebongkah balok kayu, keterampilan selanjutnya yang seolah wajib dikuasai adalah menggulung potongan kain atau kulit kayu waru menjadi tampar untuk tali gangsingannya.

Pemilik Blog Kamis 22 Mei 2025 ~ 14.57 Reply

Wah kalo pathon saya hanya penonton. Sbg bocah cilik kagum thd craftsmanship para senior.

Ketika saya sudah agak gede, kelas dua ke atas, gak ada anak main pathu.

Tinggalkan Balasan