Mencoba memahami TV Kemenkomdigi

Daripada diisi info aneh, TV di Gambir diisi film bisu Charlie Chaplin saja.

▒ Lama baca 2 menit

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Foto-foto berupa tayangan dari monitor di ruang tunggu penumpang, lantai dua, Stasiun Gambir, Jakpus, ini tidak menarik. Namun bagi saya ada yang menarik dari pesan penerapan e-SIM: meminimalisir kebocoran data.

Artinya pemerintah jujur. Hanya dapat berharap dan sekaligus menjamin bahwa data pribadi tak akan bocor berlebihan. Cuma meminimalisir. Tentu kalimat saya “bocor berlebihan” itu membingungkan. Bocor sedikit itu macam apa, bocor berlebihan itu macam mana pula.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Oh ya, di Gambir saya membatin: bukankah wajah saya dan informasi diri saya sudah terekam di sistem komputer KAI? Apakah ada jaminan takkan bocor? Foto saya bukan cuma untuk kemudahan check-in, tetapi menyimpan info ke mana saya pergi, duduk di gerbong mana, bersama siapa, dan seterusnya. Siapa saja yang berwenang mengetahui data itu, dan apa saja dasar hukumnya?

Maaf, saya tadi melenceng. Kini kembali ke monitor yang penyangganya bertuliskan Komdigi dan Ombudsman. Saya anggap dua lembaga itu yang bertanggung jawab atas si monitor maupun kontennya yang tidak menarik.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Kini adalah era siapa pun melihat ponsel masing-masing. Semua info ada di sana. Namun secara visual, konten monitor Gambir kalah dari monitor kedai yang menayangkan menu andalan dengan gambar layak dan informasi ringkas.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Monitor ini menampilkan banyak hal seperti berita. Saya sebut begitu karena hanya berupa salindia gambar diam, tak jelas itu kapan. Tidak berbeda dari tangkapan layar konten media di X tanpa tambahan konteks.

Misalnya ada calon penumpang kereta api yang ingin tahu lebih jauh dari suatu gambar berita, tak ada kode QR untuk meramban.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Ada yang ilustrasi fotonya bagus, dari Antara, tetapi ya gitu deh. Teks judul berita membingungkan. Bagi khalayak ramai, tak jelas itu soal apa. Yah, seperti teks spanduk zaman Orde Baru dengan huruf kapital semua: dengan semangat Sumpah Pemuda kita bersatu padu menuju era tinggal landas PJPT II.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Seperti di kedai, tayangan gambar ini tanpa suara. Misalnya disertai suara, juga tak efektif karena harus berebut perhatian dengan suara lain dalam stasiun. Akustik stasiun jelas berbeda dari kamar hotel yang setelan default TV-nya berupa tayangan fasilitas untuk tamu.

Lalu apa masalah monitor ini? Pemerintah hanya tahu cara menyediakan medium berupa kotak gambar namun tak tahu cara memanfaatkannya secara efektif. Lebih pintar anak sekolah yang membuat salindia dengan PowerPoint dan aplikasi serupa. Eh salah, lebih pintar pengguna TikTok membuat video ringkas.

Siaran TV Komdigi dan Ombudsman di Gambir elek pol — Blogombal.com

Saya ingat, dulu sebelum banyak konten video, monitor ruang tunggu kantor layanan partikelir menayangkan video bisu gags atau pranks dari rekaman program televisi luar. Tayangan berulang itu berupa loop namun ada saja yang menonton sambil menunggu panggilan. Film bisu klasik Charlie Chaplin juga layak di tempat ramai.

Pemerintah sebaiknya membuat film bisu, bisa diselingi videografik, untuk monitor macam di Gambir itu.

Tinggalkan Balasan