
Orang bengkel sepeda dan lokapasar menyebut bike pegs ini jalu pijakan kaki. Jalu adalah taji. Merupakan ekstensi as, dulu sebelum ada BMX, saya saat bocah kadang diboncengkan teman, pakai sepeda jengki, dengan berdiri pada jalu di belakang.
Kalau ingat itu saya ngeri. Bagaimana kalau jalu itu patah? Bisa membahayakan saya. Namun teman saya dulu bilang aman, pijakan tersebut kuat. Memang terbukti saya tak celaka gara-gara jalu bengkok apalagi patah.

Beberapa waktu lalu, ketika saya melihat sebuah sepeda perempuan dengan jalu di sebuah teras rumah, saya teringat faktor keamanan. Apakah semua jalu yang banyak dijual itu aman, dalam arti sekuat jalu untuk beraksi dengan BMX?
Lapak di lokapasar tak menyebutkan kapasitas daya angkut beban statis. Di lokapasar luar negeri, disebut daya angkut 100 kg. Misalnya jalu di Amazon Inggris.
Lalu apakah saya pernah mendengar ada anak cendera karena jalu yang diinjaknya patah? Belum. Namun makin tua saya makin mudah khawatir. Anda yang memiliki anak kecil atau keponakan, atau malah cucu, mungkin punya kekhawatiran yang sama.
Begitu banyak produk dengan spesifikasi tak jelas, sehingga kunci rem cakram sepeda lipat pun patah begitu saya dorong sepedanya.


8 Comments
Blogombal ini buat saya pribadi sudah menjadi semacam kamus istilah. Saya yg bukan pesepeda jadi tahu pancikan sikil buat pembonceng itu disebut “bike pegs”.
Dulu waktu kecil di kampung, ada semacam konvensi di sirkel kami bahwa sepeda mini bakal lebih cool kalau dudukan boncengannya dicopot. Mungkin biar lebih mirip BMX? Akibat telat menguasai basic skill numpak pit, jadilah saya pembonceng reguler, dan itu jelas bonceng berdiri.
Apesnya, tidak semua anak mau repot2 beli jalu pit. Banyak yg cuma masang mur topi (acorn nut) di area tersebut, sehingga si pembonceng musti pintar2 menempatkan telapak kaki di titik mungil tersebut. Sikil mancik di atas jalu pit bisa nyeker, tapi di atas mur topi jelas butuh alas kaki, supaya telapak kaki nggak terlalu sakit.
Karena dolan pit2an sambil bersepatu tampak terlalu serius dan rawan diketawain, maka sendal jepit adalah pilihan kasual yg paling mungkin. Itu pun sendal jepit kita bakal tambah dekok gara2 kelamaan mancik di mur topi, dan bisa berakhir bolong.
Ah, masa kanak2.. Kadang ngangeni juga.
Nah soal mur topi itu memang mboten mitayani. Bikin sakit, mlèsèti.
Tapi yah, dunia anak-anak memang menyenangkan.
BTW waktu kecil saya pernah naik sepeda lipat milik orang Belanda, duduk di boncengan, kaki saya masuk ruji, rumit sobek, darah mengalir kencang, dst, dijahit, dst, bekasnya gak hilang sampai kini.
Saat itu di rumah Salatiga gak ada ortu karena mereka sedang di Belanda.
Wah, mantep Mas. Bekas jahitan adalah bukti otentik kenang2an dari masa bocah yg mungkin seru. Komposisi roda sepeda lipat itu apakah memang agak berbeda dengan ruji sepeda biasa sehingga berujung tragedi sikil mlebu ruji, atau itu murni sedang apes aja Mas?
Saya sendiri baru kenal sepeda lipat setelah ke Bandung, sekitar akhir dekade ‘90an, dari seorang kawan yg menentengnya ke kampus.
Di era yg kurang lebih sama, seorang kawan lain tiba2 nongol ke kampus membawa sepeda roda satu. Ternyata dia bikin sendiri, dengan cara memodifikasi sepeda biasa menjadi roda satu, lewat bantuan seorang pekerja bengkel sepeda yg dia percaya. Kira2 semacam porok sepeda dipasangi sadel gitu deh.
Kami pun berebutan mencobanya, dan ternyata susah. Teman kami itu, yg memang terberkati keahlian fisik yg butuh koordinasi prima seperti mahir bermain drum, yo-yo, dan bumerang (!) santai saja menaiki roda satunya itu keliling kampus, menyapa orang2 yg terbengong2 melihatnya :)))
Aha!
1. Kebetulan kulit saya jelek, bekas luka apa pun sulit hilang, bahkan bekas gigitan tomcat jadi medali di badan. Dalam bahasa Jawa: bolèng-bolèng 🙈
2. Sepeda termaksud pernah disebut Tempo, tanpa gambar, karena wartawannya, George Junus Aditjondro, adalah murid Theo van Beseukom, si empunya sepeda lipat kecil yang dibawa dari Belanda. Gak tahu saya kenapa tumit bisa sobek.
3. Sepeda roda satu dulu identik dengan sirkus dan penjual obat di pinggir jalan yang pake tenda. Buat akrobat.
Dulu buanget saat saya masih bocah saya juga sering mekangkang di atas jalu pit. DUMP.
Sekarang membolehkan para cucu begitu gak? 🙏😇
Putu mbarep, kelas 4 SD, Mas Arka, punya dua sepeda mini lungsuran dari adik perempuan saya, tapi enggak pernah pit-pitan😁
Cucu kedua, Mbak Ara, kelas tiga SD, enggak punya sepeda, saya tidak tahu dia bisa enggak numpak pit. Kayaknyabelum bisa.😁
Semoga mereka bisa menikmati masa kanak-kanak tanpa terbebani kurikulum 🙏