↻ Lama baca 2 menit ↬

Cewek berkerudung dengan logo miras anggur Orang Tua

“Kerja di mana, Nak?” tanya ayah disertai ibu sang gadis kepada pemuda tampan gagah perkakas pujaan tetangga di kampung asal yang duduk kikuk di sofa ruang tamu.

“Orang Tua, Pak,” jawab si pemuda.

Ketika menjadi tuturan lisan, bukan tulisan, bisa muncul dua macam tafsir. Pertama: cowok itu anak juragan, masa depannya jelas. Kedua: entah anak siapa, cowok itu belum belajar mandiri, masih ikut usaha ortu, kalau begitu terus entah bagaimana nanti.

Logo anggur cap Orang Tua

Saya teringat lelucon garing itu tadi pagi, saat melihat seorang gadis remaja berangkat sekolah dengan ransel serut berlogo Orang Tua. Begitu banyak produk dengan logo Orang Tua, yang seperti halnya logo lukisan Ayam Jago (¬ ihwal sengketa merek lihat Kompas.com), dibuat tanpa lisensi dari pemilik merek. Merchandise dan produk asal comot logo tak ada bedanya.

Merchandise tanpa lisensi dari Orang Tua

Publik tahu, bahwa ikon Orang Tua dan Ayam Jago itu merek dagang, namun mereka menganggapnya sebagai khazanah bersama, sehingga sebagai bentuk apresiasi boleh saja mereka mengabadikannya ke dalam aneka benda, dari tas sampai kaus. Maka penyebutan domain publik dalam judul posting ini adalah kiasan.

Merchandise resmi dari Orang Tua

Orang Tua (OT) Group, penyebutan korporasi untuk komunikasi pemasaran, sebenarnya juga memproduksi suvenir melalui kanal Kawan Minum yang menjual minuman beralkohol selain anggur kolesom.

Tentang perjalanan bisnis OT, sila simak Tirto. Namun ada yang terlewat di sana, yaitu nama kongsi Bapak Djenggot dan ADA Group. Bendera ADA kemudahan digulung, digantikan OT.

Infografik Grup ABC dan Orang Tua

Lalu, pertautan kisah bisnis dengan tas anak sekolah tadi apa?

Pertama, sudah disebut, gambar Orang Tua adalah ikon. Kedua, gambar itu bisa berarti minuman beralkohol, sehingga ada situs web Anggur Orang Tua, namun nama dan potret kakek tua itu bisa juga grup usaha yang memproduksi aneka minuman dan camilan, dengan situs web OT.

Ketika OT berarti miras bin minol, urusan ikon di tangan publik bisa tidak penting.

Miras produksi Orang Tua di Kawan Minum Tokopedia

Saya tidak antimiras, pun tak berpantang minol namun tak berarti sering minum apalagi menjadi pecandu. Sepanjang penjualannya sesuai regulasi silakan saja. Anggur Merah (Amer) OT berkadar alkohol 14,7 persen — versi gold 19,7 persen. Sedangkan Anggur Premium 14,7 persen. Demikian menurut informasi lapak Teman Minum di lokapasar. Data lain ada di BPOM.

Dari sudut pandang saya, tanpa data, hanya persepsi, jadi silakan Anda koreksi, mulanya OT di kalangan tertentu boomers menjadi bahan bergurau. Bukan sesuatu yang keren. Apalagi Amer yang murah. Namun di tangan milenial ikon OT berupa kakek tua berjenggot menghasilkan sesuatu yang klasik dan eksotis.

Lalu dalam perjalanan waktu orang bisa tak peduli pada ikon OT yang mulanya berarti miras atas nama anggur kesehatan, karena nyatanya OT bikin teh cair sampai wafer yang bersertifikat halal.

Maka seorang gadis kecil berkerudung nyaman saja memakai tas punggung berikonkan Bapak Djenggot.

Sama dong dengan gadis sebaya dia, masih bawah umur, yang mengenakan tank top Bintang Bali dan Jack Daniel’s? Beda. Di sana ada kata beer dan whiskey.

¬ Bukan posting berbayar maupun titipan

Orangtua atau orang tua?

Miras memang perlu diatur

NPL: Membanggakan miras minol oplosan (2014)

Bir temu pelawak

Mestinya rokok dan alkohol nggak kena cukai?