↻ Lama baca < 1 menit ↬

Sosog pelem atau penyodok berwadah untuk memetik mangga

Ya, meskipun tak pernah melihat, saya masih ingat nama alat itu dalam bahasa Jawa: sosog. Kenapa ditutup dengan konsonan “g” bukan “k”? Bunyi “g” lebih penuh dan berat, kalau “k” lebih ringan, seperti lidah Sunda melafalkan “bapa”. Lidah Banyumas dan Tegal melafalkan “bapak” seperti “bapag”. Tetapi ketika diberi akhiran “é” (artinya “nya”), pelafalan menjadi “bapakké”, bukan “bapak-é” versi lidah bandhèk.

Sosog pelem atau penyodok berwadah untuk memetik mangga

Baiklah, kita tinggalkan soal bahasa. Sosog yang saya tahu sejak kecil adalah dari anyaman bambu yang ditancapkan pada galah. Ada juga yang menyatu dengan dengan galah bambu karenanya ujung galah dibelah-belah, mekar di atas sebagai keranjang mini. Bisa untuk menyodok mempelam, pepaya, dan buah lainnya, tanpa perlu memanjat.

Sosog pelem atau penyodok berwadah untuk memetik mangga

Pemilik pohon mangga di Cimahi, Jabar, ini membuat sosog dari bekas botol Pocari Sweat. Botol lain menurutnya kurang kaku. Cara memetik mangga di depan rumah, tebing sebuah kali kecil, mudah. Jika mangga disodok pelan sudah tanggal berarti memang sudah hampir matang.

Adapun mangga yang tak tergapai sosog akan matang di pohon. “Biarin aja, itu jatahnya codot dan bajing, soalnya nggak ada yang ngasih makan,” kata Pak Sosog. Pagi kemarin tampak seekor tupai sedang mengerikiti mangga. Di rumah keponakan saya, yang selingkungan dengan saya, sebagian mangga dia relakan untuk musang.

Binatang pemakan buah adalah pemilih yang pintar untuk mangga matang pohon.

Kalau cara memetik mangga di perkebunan mangga, misalnya di Australia dan negeri lain, karena pohonnya rendah, tentu tak memakai sosog.

Sedangkan cara Ali Muhtar di Indonesia malah tinggal petik. Mangganya gede banget. Di Thailand mestinya juga begitu.