↻ Lama baca < 1 menit ↬

Membuatnya jangkauan imbang ayun dari biji salak

Ada tiga kemungkinan kenapa seseorang yang sudah dewasa kadang mengulang pengalaman masa bocah, padahal tak gampang seratus persen. Misalnya membuat jangka biting dengan pemberat biji salak (Salacca zalacca).

Pertama: iseng karena dorongan impulsif saat melihat biji salak, padahal hari lain ketika makan salak sama sekali tak ingat membuat jangka kenthos, sebutan bahasa Jawa untuk biji salak.

Kedua: di balik keisengan ada hasrat mencoba mundur ke masa kanak-kanak, padahal waktu bergerak maju, sehingga upaya itu hanya memberikan hasil semu karena orang lain tetap setua sekarang dan latar kehidupan sebagaimana adanya hari ini.

Ketiga: jika dikuliti lebih dalam, dorongan kuat kemungkinan alasan pertama dan terutama diikuti alasan kedua adalah cerminan dia tak nyaman dengan alam kehidupan orang dewasa yang banyak beban dan tanggung jawab.

Membuatnya jangkauan imbang ayun dari biji salak

Hari ini saya hanya mengakui alasan pertama. Ternyata tak mudah membuat jangka biji salak. Selalu limbung dan jatuh. Termasuk dalam penyetelan berkali-kali adalah memotong kaki dan as jangka dari sujen atau tusuk sate bambu itu sehingga makin pendek.

Akhirnya barang itu jadi. Tidak sempurna. Mestinya dia tegak tak condong ke depan, belakang, kanan, maupun kiri. Tak apa. Saya puas. Hasrat hati terpenuhi. Bagi saya itulah salah satu cara mengasah kreativitas. Tetapi alasan ini sebetulnya lemah, cuma sebagai pembenar supaya tampak keren.

Apakah anak sekarang tahu mainan ini? Mendengar pertanyaan ini mereka akan tertawa penuh haru, heran kenapa wong lawas pada masa kecilnya kurang mainan. Kalau saya jadi salah seorang dari mereka, barangkali akan menjawab, “Papa dan Opa juga nggak ngajarin.”

Salak Tirtonadi bukan teman peach dan grapefruit

Salak, ular, dan pencuri

Sekeranjang salak di meja

Salak Pelengkap Makan Siang