↻ Lama baca 2 menit ↬

Haechan NCT Dream Lemonilo di dapur

Saya lihat foto kecil seukuran kartu debit di dapur. Saya langsung tahu, tetapi hanya pada kulit ari informasi: pasti bintang K-pop. Saya tak tahu lapis informasi berikutnya. Silakan tertawa, memang ini pasal usia dan selera.

Nama yang langsung terbaca adalah jenama mi instan Lemonilo. Teks berikutnya, terlalu kecil, adalah logo band. Dengan bantuan Google Lens saya dapatkan keterangan tentang dirinya. Haechan dari boy band NCT Dream.

Hmmm… sudah lama Hallyu, atau gelombang Korea, sampai di rumah saya, sebelum Black Pink dan BTS, yang wajah anggotanya tak dapat saya bedakan. Saya tak paham jika layar TV dijadikan penayang konser K-pop di ponsel.

Haechan NCT Dream Lemonilo di dapur

Posting K-pop pertama saya adalah pada 2011, memotret poster besar di sekolah potong rambut Johnny Andrean di Mal Blok M, Jaksel. Misalnya salah seorang penggemar K-pop saat itu berusia 15 tahun, berarti sekarang sudah berumur 26. Mungkin malah sudah menikah, bahkan punya anak.

Setiap zaman punya selera, dan selera bisa menular. Saya waktu kecil menemukan foto biduanita dan aktris Dorris Day (1922—2019) milik ibu saya semasa gadis. Juga semasa bocah, mbakyu saya punya foto hitam putih hasil kamar gelap , maupun cetak offset berwarna, semuanya seukuran kartu pos, bergambar artis penyanyi Indonesia, salah satunya berlabel Djakarta Wood, yang dia beli di toko buku.

Kemudian saat saya kelas tiga-empat SD, setelah dapat uang dari bude, juga dari simbah kakung, saya membeli buku tulis AA yang sampulnya bergambar band rock Barat. Saya ingat, ada yang bergambar Led Zeppelin dan Deep Purple, juga The Rolling Stones, padahal saya lebih menginginkan Grand Funk Railroad.

Buat apa saya beli buku tulis macam itu?

Buat gagah-gagahan, dan puas kalau teman saya tidak paham. Serasa saya menjadi anak yang seleranya lebih maju. Snobbish. Seperti juga saya memanfaatkan halaman majalah musik Belanda, Popfoto dan Muziek Express, yang tak saya pahami bahasanya, sebagai sampul buku tulis. Padahal saya tak tahu siapa Graham Nash, Gilbert O’Sullivan, dan Leonard Cohen yang wajahnya menyampuli buku saya. Pokoknya musisi Barat.

Bedanya, ekosistem showbiz zaman dahulu tak memungkinkan artis mendapatkan rezeki dari kemasan dirinya karena konsep merchandise dan hukum hak ekonomi belum jelas. Kini setiap anak tahu segala sisi kehidupan artis K-pop idolanya. Internet berlimpah informasi.

Haechan NCT Dream Lemonilo di dapur

Apa-apa kok Korea

Oh, masih ada majalah luks

Rhoma, Muziek Expres, dan kelucuan konsumsi media abad lalu