↻ Lama baca < 1 menit ↬

Bunga bugenvil jingga dan jambon sepeninggal istri

Tadi saat lewat depan rumah itu saya berhenti, momotret bunga bugenvil jingga dan jambon tua yang ditanam di luar pagar. Tanaman di rumah itu, juga yang di balik pagar, masih terawat. Hanya seorang yang mengurus sepeninggal istrinya menghadap Sang Khalik beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, selama likuran tahun, saya menyapa pria itu Oom dan istrinya Tante. Lalu setelah mereka kian menua dan punya cucu dari putri semata wayangnya saya menyapanya Oppung namun terhadap istrinya tetap Tante.

Orang sekitar yang non-Batak tak membedakan oppung doli dan oppung boru, yaitu kakek dan nenek. Saya menyapa si Oom itu Oppung pun belum lama, menirukan orang lain dan istri saya.

Sepeninggal Tante, Oppung kesepian. Apapun dia lakukan sendiri. Pernah terjadi kebakaran kecil di dapurnya saat dia memanaskan makanan lalu tertidur. Tetangga panik, menggedor pintu untuk membangunkan agar dapat masuk untuk ikut mengatasi.

Tiga hari setelan pemakaman istri, Oppung mengatakan kehilangan separuh dirinya — maksudnya belahan jiwa. Namun kini Oppung bisa menerimanya. Dan dia tetap rajin menengok pusara.

Bunga bugenvil jingga dan jambon sepeninggal istri

Hmmm… saya teringat kakek lain yang saya sapa Pakde. Di mata saya, ketika belum mengenal dekat, dia itu galak, juga terhadap Bude. Tengah malam ketika saya menguap, menemani Pakde, berdua menunggui peti jenazah Bude di ruang tamu, Pakde yang tampak tabah dan tegar berujar, “Udah Mas, kundur saja, istirahat di rumah, biar besok kuat bantu ini itu.”

Sepeninggal Bude, Pakde nglokro, kehilangan semangat hidup. Setiap pagi duduk di teras, memegang foto almarhumah yang terbingkai. Dalam hitungan bulan, empat belas tahun silam, Pakde menyusul Bude.

Paling banyak itu bugenvil dan kemboja