↻ Lama baca < 1 menit ↬

Kantong kertas roti Starbucks tidak dikelantang

“Daur ulang — lagi. Tas ini terbuat dari 100% kertas yang tidak dikelantang. Jadi nikmati hal yang baik di dalam, lalu lakukan hal yang baik juga dengan mendaur ulang.”

Kelantang? Lama saya tak mendengar istilah itu. Dahulu waktu saya bocah, para ibu menjemur seprai putih dan handuk putih di atas tanaman pagar, misalnya teh-tehan (Acalypha siamensis) dan beluntas (Pluchea indicia), atau bisa juga wora-wari (kembang sepatu, Hibiscus rosa-sinensis) di pekarangan, lalu mendiamkannya semalam. Buat apa? Supaya lebih putih, karena blau kadang kurang memuaskan. Memang sih, mendiamkan jemuran semalam bisa melenyapkan noda kekuningan berikut kainnya.

Saya temukan istilah “kelantang” setelah memanfaatkan kamera ponsel untuk memindai teks bungkus roti Starbucks, dari oleh-oleh yang saya terima, lalu saya meminta Google menerjemahkan. Kata “unbleached” menjadi “dikelantang”, padahal pemutihan kertas menggunakan klorin. Saya tak tahu apakah kini ada bahan pengganti klorin yang lebih ramah lingkungan — mungkin hidrogen peroksida?

Bleaching kertas dengan cara mengelantang

Teks berbahasa Inggris pada kantong roti itu “Recycle it – again. This bag is made with 100% unbleached paper. So enjoy the good thing inside, then do a good thing too-by recycling.”

Saya termasuk orang yang optimistis terhadap mesin penerjemah dan dan segala produk kecerdasan buatan yang menyangkut bahasa. Google Translate juga terus belajar. Demikian pula robot-robot pencerna dan pengemas kalimat.

Kini cara Lazada dan AliExpress mengindonesiakan informasi produk juga membaik.

Saya pernah menulis soal Dick Cepek. Sila lihat gambar di bawah.

Dick Cepek berarti burung cepek atau capek?