↻ Lama baca 2 menit ↬

Calon polder di pangkalan angkot CH alias terminal bayangan

Baru tadi malam saya tahu, ada pagar proyek pada terminal bayangan angkot KWK T10 yang berkode CH. Warga sana sejak dahulu menyebutnya pangkalan CH, untuk tempat mangkal angkot Chandra Indah (Pondokmelati, Bekasi) – Cililitan (Jaktim). Lalu belakangan Pemkot Bekasi menamai terminal bayangan, dengan papan nama.

Karena tak ada papan nama proyek saya menanya beberapa orang di sana, antara lain bekas timer dan pramuniaga Alfamart. Mereka bilang, area itu untuk waduk. Saya belum beroleh arsip beritanya.

Calon polder di pangkalan angkot CH alias terminal bayangan

Pangkalan angkot yang sebelumnya berupa tanah kosong seluas 1.346 m² dengan lapangan voli itu adalah saksi perjalanan permukiman dan transportasi umum inisiatif warga. Ketika kompleks Chandra Indah dibangun dan dihuni, kemudian disusul Chandra Baru, pada 1980-an, tak ada angkutan umum ke Jakarta.

Lalu ada inisiatif mengadakan mobil omprengan ke Terminal Cililitan, melalui Jalan Raya Hankam, Jalan Raya Pondokgede, Jalan Raya Bogor, dan Kramatjati, lalu Cililitan. Dalam perjalanan waktu, MKGR merengkuhnya untuk legalisasi, melalui Koperasi Wahana Kalpika, rapatnya antara lain di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakbar.

Calon polder di pangkalan angkot CH alias terminal bayangan

Misalnya benar pangkalan itu untuk waduk, lebih tepat disebut polder, besar kemungkinan karena lahan di sana sering kebanjiran. Seorang bapak, pemilik warung, pernah bercerita saat banjir air bisa setinggi paha orang dewasa. Alfamart di sana setiap kali banjir akan tutup karena air masuk ke toko.

Jika menyangkut banjir ada soal AMDAL dan perubahan lingkungan akibat pertumbuhan bangunan disertai drainase buruk. Apalagi orang bebas membangun rumah tanpa IMB.

Chandra Indah dan Chandra Baru dibangun di cekungan, dulunya empang dan sawah. Posisinya lebih rendah dari jalan lama, yakni Jalan Pasar Kecapi dan Jalan Raya Kodau. Kawasan perkampungan yang lebih tinggi bernama Bulak Tinggi.

Dulu di Chandra Baru ada jejak tebing bekas keprasan gumuk, sekarang tertutup tembok pembatas kompleks baru. Sementara di kaki gumuk dulu ada situ kecil, lalu menjadi perumahan. Area tangkapan air pun berkurang. Salah satu pihak yang saya duga sejak awal mengantisipasi banjir karena mempelajari topografi adalah PLN: membangun gardu listrik yang dasarnya setinggi dua meter, mirip candi.

Lalu ke mana mobil angkot CH nanti berpangkalan? Saya belum tahu. Saya menanya seseorang di pangkalan, jawabannya, “Entar muterin kompleks.” Mungkin dia bercanda.

Tentang mobil CH, penumpangnya tak sebanyak dulu karena pemilikan sepeda motor kian meluas. Kini setiap rumah memiliki setidaknya satu motor. Ojek daring juga mengurangi ketergantungan pada angkot.

Salah satu jasa CH bagi saya adalah jika saya dahulu pulang dari acara kantor di Puncak, atau saya menumpang mobil teman, saya turun di TMII, lalu naik CH dari Cililitan, duduk manis, sampai dekat rumah.

Calon polder di pangkalan angkot CH alias terminal bayangan

Senja sepi tadi

Terminal bayangan di kompleks perumahan

Angkot bikin cekat-cekot

Gardu listrik mengantisipasi banjir