↻ Lama baca < 1 menit ↬

Tak ada sisa cerita untuk blog karena semua sudah tertuang di Facebook

Pernah aku katakan, ngeblog itu bukan untuk semua orang. Dulu. Sudah lama banget.

Mungkin terdengar pongah, padahal maksudku ini soal selera dan kesukaan. Tak ada pertautan dengan kualitas maupun banyaknya pembaca apalagi ketenaran. Semata soal kenyamanan diri. Apalagi saat ini.

Lalu kau bilang ingin ngeblog, tapi selalu buntu, tak tahu apa yang akan kau tulis.

Bukankah kau pernah jadi wartawan, mestinya soal menulis bukan masalah.

Mestinya sih, katamu.

Lalu apa masalahmu?

Kau bilang, untuk foto dan video ada di IG, kadang juga ada di FB, dan di FB dirimu sudah menuangkan banyak cerita, banyak yang menanggapi.

Ada catatan darimu, justru karena semua sudah tumpah di FB maka kau tak dapat menulis orang bertemu atas nama reuni kecil tapi masing-masing asyik dengan ponselnya.

Ah, itu tinggal ditulis di FB. Tidak mungkin katamu, banyak orang akan tersinggung karena sudah ada posting reuni-reuni kecil.

Memotret dan menceritakan mobil yang parkir di garis batas dua kaveling, setelah sampah dari jok tengah keluar dari pintu, juga tak mungkin katamu.

Kalau punya blog, terpisah dari FB dan IG, akan lebih bebas. Itu simpulan darimu.

Oh, jadi FB dan IG untuk bersilaturahmi sekalian menjaga perasaan orang, lalu blog untuk menyalurkan energi negatif?

Juga, bukankah orang tertentu yang akan kau bahas dalam blog akhirnya tahu?

¬ Gambar praolah: Shutterstock