↻ Lama baca < 1 menit ↬

Pemuda partai dan gaya paramiliter

“Viral ya pidato dia sebagai ketua pemuda partai. Tapi kenapa ya Oom, ada aja partai yang kayak punya tentara sendiri?” tanya Glenn Gayam.

“Bukan tentaralah, Glenn. Biasanya organisasi kepemudaan sebagai onderbouw. Ada juga yang memang organ internal partai, sebagai sayap. Emang napa sih?” jawab Kamso.

“Kok pada pake seragam yang mirip aparat keamanan?”

“Seragam perlu buat memelihara esprit de corps, kebanggaan, dan kontrol. Ketika berseragam, setiap anggota menjadi panji. Sikap dan perilaku harus terkontrol. Ulah buruk seseorang akan mencoreng korps, dianggap mencerminkan dan mewakili korps.”

“Tapi kenapa pake gaya tentara, Oom?”

“Karena ada yang berfungsi sebagai satgas keamanan internal, kalo di lapangan ya lebih enak dan gagah pake gaya paramiliter, bukan koloran. Bahkan ada tuh kelompok paramiliter, bukan milik partai, yang viral karena hormat ke baliho. Apapun kelompoknya dan siapapun induknya, paramiliter harus sesuai seragamnya. Dilatih disiplin, bela diri, dan baris berbaris. Soal baris ini nggak gampang, bukan cuma koreografi tapi kedisiplinan, kepatuhan, dan kebersamaan. Ingat, gaya jalan orang beda-beda. Kalo asal jalan bareng dengan gaya masing-masing, namanya rombongan berangkat dan pulang nonton bolatarkam.”

“Kenapa partai harus punya paramiliter? Di Amrik dan Eropa Barat ada nggak?”

“Nggak tau kalo sekarang. Waktu Perang Dunia II ada sih negeri di Eropa yang partainya punya paramiliter dan milisi.”

“Kalo di Indonesia, Oom?”

“Wah, nanya ahli sejarah dong soal peta politik zaman Orla dan Orba.”

“Tapi paramiliter kan kesannya sangar. Malah bikin takut. Apalagi kalo suka minta sumbangan.”

“Tergantung kelompok dan induknya. Apakah ada yang ingin jadi militia, bahkan vigilante, itu tergantung negara masih hadir nyata nggak.”

“Tapi kan serem kalo liat mereka, Oom?”

“Masa? Setiap kali gerejamu dijaga paramiliter kok kamu merasa aman dan nyaman beribadah Natal dan Paskah?”

¬ Gambar praolah: AliExpress

THR untuk ormas preman