↻ Lama baca < 1 menit ↬

Luhut Binsar Panjaitan membatasi pengunjung Candi Borobudur

“Payah nih, Pak! Masa sih masuk area Candi Borobudur bayar Rp750.000? Jangan mata duitan dong! Masa memeras rakyat sendiri! Katanya pengin rakyat menghargai sejarah bangsa sendiri?” Andy Sokbreker bersungut-sungut.

Kamso kalem menyahut, “Yang bayar mahal tuh kalo naik ke candi.”

“Lho candinya kan kuat, nggak kayak panggung dangdut di acara kawinan? Mengada-ada tuh alasan demi menjaga keutuhan candi. Buat apa dulu restorasi mahal kalo nggak boleh dinaikin, pake taktik karcis mahal?”

“Setiap bangunan punya batas kapasitas, nggak cuma soal bobot total orang dan barang tapi juga batas volume pengisi ruang, demi keselamatan. Menara Pisa juga gitu, membatasi jumlah orang yang naik, harga tiket naik terus. Nepal dan Cina juga membatasi orang yang naik Himalaya supaya nggak membebani lingkungan. Dulu di kita malah ada wacana membatasi pengunjung Pulau Komodo.”

“Tapi apa harus nyegat orang dengan tarif mahal?”

“Menurutmu ada cara tanpa naikin harga? Kayak di toko branded kalo lagi ada sale, atau waktu kemarin pas PPKM jumlah pengunjung toko yang genah dibatasi, lima orang bisa masuk setelah lima yang di dalam keluar, supaya di dalam tetep lima puluh orang termasuk pramuniaga? Candi nggak bisa pake rumah makan, kalo di dalam semua meja penuh ya balik badan.”

“Ya, pakai cara branded sale, Pak!”

“Kalo yang antre banyak padahal jam buka candi terbatas gimana dong?”

“Diundi, Pak!”

“Kamu yakin itu nggak menimbulkan suap, joki, dan tukang catut, bahkan tiket palsu? Bukannya jadi ekonomi biaya tinggi?”

“Ah embuh, Pak! Mestinya pake sosialisasi yang lama dan matang soal candi ini! Media juga jangan ngasih info sepotong-sepotong!”

¬ Gambar praolah: Setkab, Shopee

Bagaimana jika koran cetak menjadi poster saja?