• Lama baca: 5 menit →

Infografik sehalaman di koran Kompas: pembangunan Candi Borobudur

Kompas Minggu kemarin memuat infografik tentang proses pembangunan Candi Borobudur selama 60-70 tahun sehalaman penuh. Gambarnya bagus. Informasinya lengkap.

Memang sih tak ada gambar teknik penyambungan batu secara interlocking, suatu hal yang pekan lalu menjadi perbincangan di Twitter. Saat itu masih ada yang nyeletuk soal telur ayam sebagai perekat batu. Oh, dulu belum ada ayam petelur, akan repot dan mahal kalau harus mengorbankan sumber protein untuk menumpuk batu candi.

Infografik sehalaman di koran Kompas: pembangunan Candi Borobudur

Cara Kompas bagi saya unik dan pas: infografik sebesar dan selengkap itu hanya cocok untuk koran kertas. Konten menyesuaikan karakteristik media.

Infografik sehalaman di koran Kompas: pembangunan Candi Borobudur

Bukan sekali ini Kompas membuat infografik besar yang akan merepotkan jika dibaca di tablet apalagi ponsel. Setajam apa pun gambar tetap kurang nyaman jika harus di-zoom sampai pol. Tetapi itulah kelebihan artefak bernama koran kertas, yang umurnya di rumah pembaca cuma sehari — tapi ada arsip digitalnya, dan lebih bagus jika terhubung konten digital karena kode QR ke sajian augment reality.

Infografik sehalaman di koran Kompas: pembangunan Candi Borobudur

Koran jadi poster Hangabèhi

Dulu, awal 2000-an, Koran Tempo yang masih berformat besar membuat artikel sehalaman penuh gambar tentang Fender Stratocaster.

Meskipun kualitas cetak tak sebagus Kompas sekarang, jenis kertasnya juga kurang sip sehingga bekas lipatan meninggalkan luka dalam, saya membingkai halaman bergambar Koran Tempo itu sebagai poster — mendahului yang dilakukan South China Morning Post pada 2014. Saya pajang produk Kortem itu di ruang rapat kantor saya. Untuk apa?

Infografik sejarah Fender Stratocaster di SCMP

Untuk contoh mengemas informasi di media cetak, yang menggabungkan visual dan teks, dengan riset tekstual maupun visual, dan butuh kerja tim, kecuali ada seseorang bergelar hangabèhi.

Hangabèhi karena kabèh-kabèh (semuanya) dia urus sendiri, sejak riset sampai menggambar, memotret, mendesain dan mengisikan teks. Tidak semua orang bisa menjadi copywriter kan?

Kalau hasilnya bagus, orang macam itu (dengan catatan dia produktif) pasti gede gajinya karena bisa meringkas pekerjaan tim termasuk traffic manager. Apabila gajinya pas, juragan paling cuek pun pasti bersyukur punya tukang yang bisa melakukan banyak hal. Tak perlu menambah tukang.

Ternyata, sejauh saya tahu, selain saya ada juga yang membingkainya sebagai panil, yakni sebuah toko alat musik di Mal Taman Anggrek, Jakbar. Eko Punto Pambudi, pengarah seni Tempo, mungkin masih ingat testimoni saya yang sok apresiatif itu.

Capek baca neraca keuangan

Kembali ke koran kertas, iklan sehalaman, bahkan spread bolak-balik, yang berisi pengumuman pun dikemas sebagai infografik.

Infografik laporan keuangan BCA di koran Kompas

Bank Indonesia dan kemudian BCA melakukannya sehalaman penuh, dengan menukil bagian tertentu dari ringkasan laporan. Tabel neraca sehalaman koran hanya bisa dinikmati oleh orang bisnis.

Pekan lalu Tokopedia Gojek, eh terbalik mestinya Gojek Tokopedia, mengumumkan perkawinan mereka dengan beriklan empat halaman terlipat dua (ya spread itu) secara bolak-balik, sebagai jaket pembungkus koran, di Kompas.

Iklan spread Tokopedia Gojek di koran Kompas

Iklan spread Tokopedia Gojek di koran Kompas

Usia konten, seperti saya bilang tadi, hanya sehari. Namun jika terkemas efektif akan mengesankan pembaca. Terutama dalam kasus Goto dan nanti sejenisnya.

Lebih baik koran jadi poster saja?

Jadi, koran jangan menulis dengan cara lama, setidaknya seperti cara Koran Tempo yang halaman depannya berupa poster?

Untuk halaman tertentu, saat ini, bisa. Kalau semua halaman ya berat. Saya sebut berat kalau dikerjakan manual mengejar tenggat harian.

Akan tetapi kalau besok kecerdasan buatan bisa melakukannya, terintegrasi dengan desktop publishing, maka semua berita harian akan terkemas visual di atas kertas koran.

Keren dong? Jelas. Ralat: maksud saya mungkin.

Saya lupa baca di mana, ada koran di Eropa yang padat tuturan visual. Dengan robot yang terus belajar maka produksi kian mudah (mestinya).

Kedai kopi penyedia koran visual

Dengan platform berita visual itu, setiap orang juga bisa melakukannya. Misalnya pemilik kedai kopi, bisa bikin koran sendiri. Dicetak terbatas, dapat donasi dari pelanggan, semacam tambahan untuk tip barista dan pramusaji — mereka adalah karyawan selain robot pembuat koran.

Pemesan kopi antaran juga bisa mencetang opsi tambah koran (gratis?). Juragan kedai tetap merasa jualan kopi dan toast dalam wadah karton dengan keju ndlèwer, bukan sebagai kurator berita dan info yang dia kemas secara visual di atas kertas. Kenapa? Kedai lain juga melakukannya.

Cetak digital, sebagai penyedia layanan print on demand, akan semakin murah.

Jika ekosistem bagus, dan sisi legal tertata jelas, apa susahnya? Eh, sok tau saya. Maaf. Cuma pengandaian saja. Aset visual, misalnya, terengkuh oleh platform sebagai Creative Commons. Demikian pula aset berbayar.

Kalau robot menyalin berita dari televisi dan radio, untuk menjadi asupan platform robot berita, itu lebih ke urusan ranah hukum. Perlu negosiasi — biasanya setelah pecah konflik. Mungkin melibatkan pemerintah, apalagi setelah isu public goods terus menguat, dan begitu pun perjuangan orang media untuk tetap beroleh manfaat ekonomi seperti hasil kompromi di Australia.

Lalu nasib penerbit koran? Entah. Mungkin bikin kedai kopi.

https://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/05/wp-1621829256283-700x1120.jpghttps://blogombal.com/wp-content/uploads/2021/05/wp-1621829256283-150x150.jpgPemilik BlogLihat Baca Dengarartificial intelligence,augmented reality,desain grafis,infografik,jurnalisme,jurnalisme visual,kecerdasan buatan,kedai kopi,kompas,koran,media berita,media cetak,robotKompas Minggu kemarin memuat infografik tentang proses pembangunan Candi Borobudur selama 60-70 tahun sehalaman penuh. Gambarnya bagus. Informasinya lengkap. Memang sih tak ada gambar teknik penyambungan batu secara interlocking, suatu hal yang pekan lalu menjadi perbincangan di Twitter. Saat itu masih ada yang nyeletuk soal telur ayam sebagai perekat batu....Suatu atau sebuah blog?