↻ Lama baca 2 menit ↬

Daun muda adalah perempuan muda, disebut dalam konteks seks

Sebelum ada WhatsApp, sudah jamak juga jika ada celetukan tentang daun muda, dalam forum berisi pria semua maupun campuran yang ada perempuannya. Biasanya istilah tanpa penjelasan makna itu berlaku di kalangan orang dewasa berusia 40 ke atas.

Topik tanaman, tentang tanaman hias dalam berkebun maupun sayur terutama lalap, bisa dibelokkan menjadi canda perihal daun muda dalam arti kiasan. Semua orang paham arahnya: seks. Lebih khusus lagi, daun muda adalah perempuan muda. Lalu untuk pria muda muncul istilah pengimbang: batang muda.

Tak jarang muncul canda berperisa olok-olokan dari perempuan, misalnya, biarpun dapat daun muda belum tentu pria dapat mengunyahnya. Lalu semua tertawa. Skor satu sama.

Seks memang topik gurauan abadi. Lantas perjalanan norma dan pemahaman para penutur bahasa pun berkembang, ada rambu adab mana yang melecehkan dan mana yang tidak.

Saya tak tahu apakah dalam perbincangan di kalangan bangsa lain, atau ras lain, bukan di Indonesia, juga ada topik daun muda yang berkelindan dengan seks. Antropolog dan pemerhati isu gender dapat menjelaskan.

Lalu apakah daun muda, sebagai kiasan, mesti bertaut dengan seks? Tidak juga. Dalam Citra Pariwara Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia, sejak 2003 ada kategori Daun Muda. Pemenangnya berhak atas Daun Muda Award. Para calon untuk tahun lalu harus lahir setelah 1991. Pemenangnya dikirim ke Young Lotus Creative Workshop dalam Asia Pacific Advertising Festival.

Daun. Itulah unsur alam yang sering menjadi lambang aneka hal. Paling sering adalah sebagai ikon lingkungan hidup.

Kalau istilah “naik daun”? Istilah ini hidup lagi di media setelah Tempo menerapkannya dalam berita pada 1980-an, berbarengan dengan “apa pasal?” yang oleh media lain menjadi “pasalnya…” untuk menyebut sebab. Dan setelah itu beriringan dengan “termehek-mehek”.

Dahulu Tempo memang menjadi pelopor dalam penyegaran tuturan bahasa jurnalistik. Ihwal kosakata lama “kiat”, Tempo juga yang menghidupkan, menjadi nama rubrik tip manajemen dari Bondan Winarno, saat tokoh ini belum diketahui sebagai penakzim cita rasa “seni perdapuran” — istilah ini seingat saya usulan wartawan Kompas Salomo Simanungkalit, karena “kuliner” (culinary) berasal dari kata culina (Latin) yang berarti dapur.

Kembali ke “naik daun”, istilah ini ada dalam KUBI W.J.S. Poerwadarminta maupun KBBI. Artinya: selalu menang, mujur, atau sedang menanjak nasibnya.