↻ Lama baca < 1 menit ↬

Sinar matahari masuk ke kamar menyapa tempat tidur

Bersyukur. Mudah diucapkan. Oleh siapapun. Terutama aku. Kadang sepenuh penghayatan, kadang sekadar berucap. Apalagi jika aku tujukan kepada orang lain.

Pagi bangun kesiangan aku masih mendapatkan sorotan sinar di depan bibir ranjang. Cahaya kekuningan menyapa tekstur lantai yang belum aku sapu apalagi aku pel. Pantulannya mengilapkan kayu bed.

Pada banyak rumah di kota besar, sinar mentari pagi menyeruak ke kamar bisa menjadi kemewahan. Tak setiap kamar memperolehnya.

Rumah terus bermunculan, banyak yang didirikan di atas lahan sempit. Dari yang sudah jadi, rumah-rumah terus bertumbuh: menjenjang, melebar, dan memanjang, banyak yang dindingnya saling menempel dengan rumah sebelah. Sisa lahan secuil panjang pun akhirnya sulit mendapatkan cahaya matahari langsung.

Maka aku katakan, memiliki kamar yang masih dapat diterobos sinar surya adalah kemewahan. Tetap merupakan kemewahan. Karena sebelum ada bangunan tinggi dari tetangga, sinar matahari lebih banyak, masuk ke kamarku melalui jendela tak bertabir, langsung menerpa tembok, seprei, dan lantai secara bertahap seiring pergeseran sang sumber cahaya memanjat siang.

Arsitektur dapat memberi solusi terhadap kebutuhan akan cahaya dan udara. Itu benar. Apalagi kian beragam material tembus cahaya untuk atap dan dinding. Rumah-rumah baru, dengan desain yang dapat dirujuk ke media sosial, telah memberikan contoh: tembok saling menempel bukan penghalang untuk menuai terang alami.

Aku membayangkan sebuah lingkungan permukiman dengan rumah-rumah kecil yang menjadi unjuk contoh pemerintah kota: rumah-rumah beratap miring runcing yang tak akan menghalangi cahaya matahari ke rumah sebelah. Selalu ada jarak antardinding rumah. Setiap perubahan bangunan harus disertai IMB.

Tadi pagi aku segera tersadar. Telah terperosok ke dalam utopia. Justru setelah aku bersyukur atas cahaya penerpa lantai di depan ranjang.